Make your own free website on Tripod.com
     Cantik, Cantiklah dari Dalam

           Pengembangan kecantikan ala Islam

Orang sekarang ribut sekali berusaha untuk bisa menjadi cantik.
Majalah-majalah wanita didominasi oleh segala jenis iklan yang
berkepentingan dalam hal menjaga kecantikan. Mulai dari gaya
tatanan rambut, pewarna wajah, pembentuk body, hingga mode baju
dan aksessories.

Jika benar-benar mengikuti resep-resep seperti itu, untuk bisa tampil
menarik maka seorang wanita harus merelakan sekian juta rupiah
dari dompetnya. Belum lagi ditambah kursus-kursus kepribadian
yang mengajari cara berpenampilan, cara tersenyum yang menarik,
cara berjalan yang baik, cara makan yang beretika, hingga etika
berkendaraan yang benar, yang katanya akan semakin menambah
bobot kecantikan seorang wanita.

Nyatanya, kursus-kursus kepribadian ini cukup banyak diminati
wanita, terutama mereka yang punya karir dan memerlukan keahlian
untuk tampil menarik di depan publik. Biaya yang mahal tak
menjadikan mereka surut keinginan. Satu kali kursus tentang etika
berkomunikasi yang dipatok harga jutaan rupiah sebulan pun tak
kurang peminatnya.

Apa yang disebut kecantikan sebenarnya terbagi menjadi dua hal.
Pertama, kecantikan yang tumbuh dari dalam. Kedua adalah
kecantikan yang dipoleskan dari luar. Dari dua macam jenis
kecantikan ini, sebenarnya yang pertamalah yang akan lebih banyak
menentukan. Sementara kecantikan kedua hanya memberikan
tambahan dan sentuhan akhir saja yang akan menyempurnakan.

Kecantikan dari dalam

Akhlaq dan kepribadian seseorang, akan terbentuk seperti
sebagaimana bobot tauhid di dalam dadanya. Begitu juga dalam hal
penampilan seseorang, akan dipengaruhi dengan bagaimana kondisi
kejiwaannya. Hal ini begitu penting, sehingga bagi siapa saja yang
ingin bisa tampil cantik dan menarik, penting baginya untuk
membenahi terlebih dahulu keadaan kepribadiannya. Karena upaya
ini rumit dan berat, maka orang tak segan membayar jutaan rupiah
untuk belajar kepribadian secara instan.

Inilah sebenarnya yang dilakukan di sekolah-sekolah kepribadian, di
mana diajarkan cara tersenyum, cara bersalaman, hingga cara melirik
dengan harga jutaan rupiah hanya untuk beberapa kali pertemuan.
Sebenarnya inti dari pelajaran-pelajaran ini adalah membentuk
kepercayaan diri yang kuat, karena dari kepercayaan diri itulah akan
terpancar kecantikan dalam penampilan mereka.

Akan tetapi bagi siapa yang meyakini kebenaran al-Qur'an, maka
sebenarnya di dalam kitab yang mulia ini telah ada resep yang murah
untuk bisa tampil cantik. Siapapun bisa memperolehnya, tanpa harus
mengeluarkan biaya. Beberapa kiat untuk membentuk kecantikan
dari dalam diri seorang wanita, di antaranya akan kita bahas di sini.

1. Rasa malu

Rasa malu ini secara umum harus dimiliki oleh setiap orang, baik
laki-laki maupun wanita. Rasulullah menyebutkan, "Sesungguhnya,
setiap agama memiliki moral. Dan moralnya Islam adalah rasa malu."
(HR Malik). Dengan adanya perasaaan malu inilah seseorang akan
tumbuh dengan kepribadian yang baik.

Terlebih bagi wanita muslimah, keberadaan rasa malu di dalam
dadanya perlu lebih diperbesar lagi. Bukan hanya terbatas pada rasa
malu untuk melakukan hal-hal buruk, tetapi juga rasa malu dalam hal
komunikasi dengan lawan jenisnya.

Al-Qur'an telah menceritakan dengan indah kisah dua putri nabi
Ya'kub, seperti dikisahkan dalam surat Qashas: 25, yang artinya,
'Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua
perempuan itu, berjalan kemalu-maluan. Ia berkata, 'Sesungguhnya
ayahku memanggil kamu agar ia memberikan balasan atas
kebaikanmu memberi minum kepada ternak kami.'

Rasa malu dalam berkomunikasi dengan lawan jenis ini harus
dipelihara dalam dada. Walaupun tentu saja harus tetap tidak
keterlaluan hingga mencapai taraf minder.

Jika rasa malu ini terpelihara, maka akan nampak dalam perilaku si
muslimah sebuah kecantikan khas kewanitaannya. Pancaran rasa
malu ini akan nampak pada perilaku mereka yang tidak terlalu aktif
maupun agresif jika menghadapi laki-laki. Bahkan cenderung
nampak pasif, namun bisa tetap teguh pendirian.

Muslimah yang banyak tingkah di hadapan laki-laki, menunjukkan
keaktifan berlebihan atau bahkan cenderung ingin mendominasi
pembicaraan justru akan membuat laki-laki mencibirkan bibir.

Anjuran untuk menundukkan pandangan, juga dalam rangka
memelihara rasa malu ini. Gadis yang bertemu laki-laki dengan wajah
menunduk kemerah-merahan karena malu akan lebih menarik bagi
mereka dibandingkan wanita yang memandang tegar dengan kepala
mendongak dan senyum mengembang, sehingga terasa menantang.
Senyum si gadis yang malu-malu akan lebih menarik daripada
senyum yang genit maupun sinis.

Rasa malu ini juga membuat kaum muslimah ikhlas menutupi auratnya
dengan baik. Sesungguhnyalah penampilan dengan pakaian
sederhana namun rapi yang menutupi tubuh akan semakin
merangsang orang untuk menghargai apa yang ditutup. Sebaliknya
jika aurat sudah dibuka lebar, disuguhkan sebagai tontonan, maka
tak ada lagi yang perlu dihargai maupun dihormati oleh laki-laki
terhadap tubuh si wanita tersebut.

2. Lemah lembut

Ada wanita yang terdidik berperilaku kasar, tidak telaten, bersuara
kasar dan keras, dan kebiasaan tawanya yang ngakak dan
melengking. Penampilan seperti ini akan jauh kalah menarik bagi
laki-laki dibandingkan muslimah yang berpenampilan kalem, berjalan
tidak terlalu cepat, berbicara dengan suara yang lembut, gerakan
tangan dan badannya pun tidak nampak grusa-grusu.

3. Pengabdian

Semenjak gadis, karakter pengabdian sudah harus ditumbuhkan
dalam diri muslimah. Bahwa laki-laki memang lebih tinggi satu derajat
dalam hal-hal tertentu harus tertanam dalam jiwa, sehingga sudah
mulai nampak pengorbanan-pengorbanan mereka yang
dipersembahkan bagi lawan jenisnya itu.

Misal, ketaatan untuk menjadi makmum yang baik dalam shalat,
kesediaan untuk berada di shaff belakang, kesediaan untuk berjalan
di tepi-tepi jalan demi memberikan kesempatan lapang bagi laki-laki,
memasakkan kebutuhan kaum laki-laki dalam berbagai pertemuan,
semua itu akan melatih muslimah untuk pandai memberikan
pengabdian ketika kelak bersuami.

Akhirnya, seorang istri akan nampak lebih cantik di mata suaminya
jika ia pandai melayani suami dalam berbagai kebutuhannya, dari
kebutuhan sehari-hari hingga masalah seksual. Kesediaan istri
mengorbankan kepentingannya sendiri demi kebutuhan suami
membuatnya tampil menarik bagi suami. Sebaliknya, istri yang suka
mencari-cari alasan untuk menunda atau menolak keinginan suami
akan membuatnya tampil buruk.

4. Percaya diri

Tanpa adanya kepercayaan diri, seorang muslimah hanya akan
berpenampilan tak menarik, terlalu pasif, minder, bahkan terkesan
plin-plan. Jika tiga sifat terdahulu sudah terpelihara, namun secara
berlebih-lebihan, maka kepercayaan diri inilah yang harus
ditumbuhkan.

Mereka yang terlalu pemalu, minder dan salah tingkah akan menjadi
tak menarik. Begitu juga yang terlalu lemah lembut hingga terkesan
loyo dan tak bergairah, serta yang sekadar taat perintah tanpa punya
pendapat serta pendirian. Untuk mencegah ini semua, maka
pengembangan ketiga sifat di atas harus diimbangi dengan
pengembangan kepercayan diri yang cukup.

Adanya kepercayaan diri ini membuat seorang muslimah tetap
mampu berkarya di tengah masyarakat, tetap mampu menyuarakan
pendapatnya, dan mengembangkan kemampuannya dalam berbagai
bidang kehidupan seperti halnya laki-laki.

Sebaliknya, mereka yang telah mampu berkarya dengan baik,
memiliki peran sosial yang baik di tengah masyarakat karena
kepercayaan dirinya yang cukup tinggi, perlu mengembangkan sifat
malu, lemah lembut serta pengabdiannya, sehingga karirnya di tengah
masyarakat tidak menghilangkan kecantikan alaminya.

Setelah berhasil menumbuhkan kecantikan dari dalam, maka
muslimah bisa melengkapinya dengan mempercantik diri dari luar.
Tentang syariah kecantikan dari luar ini pun Islam telah memiliki
standar tersendiri, yang tak akan dibahas di sini. Namun yang lebih
penting diingat, bahwa fungsi pemolesan kecantikan dari luar hanya
sebagai pelengkap, sementara pembinaan kecantikan dari dalam
yang secara otomatis akan membentuk kecantikan yang sebenarnya.