Make your own free website on Tripod.com
 
 

           Wanita Berapa Harga Dirimu?

 Penghargaan orang tergantung bagaimana kita menghargai
                            diri kita sendiri

     Apabila kita mematok harga murah untuk diri kita, maka murah jugalah Allah akan
menghargai kita. Sebaliknya jika harga standar ditetapkan tinggi, maka Allah pun akan memberikan
penghargaan yang setimpal.

     Harga yang paling tinggi adalah ketaqwaan. Karena berdasar harga ini pulalah Allah akan
menentukan penilaian terhadap setiap manusia.

     Harga yang lebih rendah adalah yang menyangkut fisik seperti kecantikan, penampilan,
kekayaan, atau jabatan. Semua ini dinilai rendah karena bersifat kebendaan, keduniaan semata, yang
sewaktu-waktu bisa lenyap ditelan bumi. Bila kita menghargai diri dengan standar kebendaan ini,
sungguh kita hanya memberi harga sebatas usia bumi saja. Alam akhirat yang kekal justru tidak akan
mau memberi harga kepada jasad kita. Maka jika kebendaan ini usianya telah usai, hendak lari ke
mana kita?

Seharga kecantikan

     Jika kita merasa akan dihargai orang hanya bila bisa menonjolkan kecantikan dan keindahan
tubuh, maka berarti harga diri kita hanya sebatas kecantikan itu. Tak lebih seekor burung merak
yang sibuk memamerkan keindahan bulunya. Decak kagum dan pujian memang akan diperoleh,
tetapi tujuan hidup yang demikian tentu tidak bisa dibenarkan.

     Orang seperti ini akan sibuk hanya merawat kecantikannya. Tak peduli seberapa besar
pengorbanan yang harus diberikan dan berapa banyak pelanggaran yang harus dilakukan. Yang
penting tampil cantik dan menarik, dan menjadi idola banyak orang. Ratu-ratuan merupakan ajang
kebanggaan bagi mereka. Membuka aurat juga menjadi hoby-nya, karena hal itu merupakan
kesempatan untuk memamerkan kelebihannya. Maka umur mereka hanya sebatas di dunia ini saja.

Seharga penampilan

     Hampir sama dengan harga berdasar kecantikan, wanita seharga penampilan ini baru merasa
akan dihargai orang jika ia bisa tampil dengan prima. Maka perhatiannya pun terpusat untuk
memikirkan, penampilan apa yang paling trend? Baju mini mana yang sedang digemari? Atau
semerbak parfum Charles Jourdan? Bisa jadi pasangan serasi tas, sepatu, dan arloji dari Gucci.
Maka demi penampilan yang prima ini, orang rela mencarinya hingga ke ujung dunia.

Seharga kemewahan

     Pernahkah kita iri melihat sekelompok wanita dengan penampilan trendy, mengendarai mobil
BMW, berbelanja baju-baju mahal di swalayan dan membayarnya hanya dengan selembar kartu
kredit? Terlintaskah keinginan untuk meniru dan merasakan kenyamanannya? Jika pernah, berarti ini
sudah gejala buruk. Kita mulai menghargai diri senilai kemewahan. Merasa bahwa diri ini akan
dilihat orang jika mamapu hidup mewah. Beranggapan bahwa mereka yang berduitlah yang akan
mendapat perhatian. Anggapan seperti ini akan membuka jalan bagi penghalalan segala cara demi
mencapai kemewahan hidup. Dan, banyak wanita yang memilih jalan pintas untuk meraihnya.

Seharga jabatan

     Apakah kita sangat berambisi mengejar karir dan jabatan demi nama baik? Itu sama artinya
dengan menghargai diri sebatas pada jabatan. Lantas jika tidak memiliki jabatan atau karir merasa
diri sebagai wanita murahan.

     Perasaan seperti ini akan mendorong berbagai pengorbanan hingga hal- hal yang tidak lagi
proporsional. Demi karir, ibu-ibu rela meninggalkan balitanya untuk ditunggui baby sitter yang belum
tentu juga bisa mendidik. Demi karir juga, seorang istri harus menelantarkan suaminya. Bahkan demi
jabatan dan status, banyak orang rela memberikan uang pelicin, yang jumlahnya bisa-bisa lebih dari
gajinya selama setahun. Yang begini-begini jelas tidak rasional lagi, sekalipun sering dengan alasan
yang masuk akal seperti untuk mengamalkan ilmu, untuk mengabdikan diri bagi masayarakat, dan
sebagainya. Langkah itu sudah berlebihan.

Seharga kepandaian

     Ataukah kita berpendapat bahwa wanita sejati hanyalah yang mumpuni dalam bidang keahlian
tertentu? Yang berhak menyandang sederetan gelar, dan disebut cendekiawan? Yang digolongkan
sebagai tenaga ahli dan pakar? Yang banyak berbicara dalam seminar-seminar?

     Kecenderungan orang sekarang adalah mengejar gelar S-2 dan S-3. Sarjana S-1 dianggap
sudah terlalu umum dan kurang laku. Sementara untuk memperoleh gelar-gelar yang lebih tingi itu
diperlukan waktu yang tidak sedikit. Biaya pun mahal. Tetapi semuanya dikorbankan demi gelar.
Walau harus menuntut ilmu ke luar negeri meninggalkan keluarga pun dijalani.

     Jangan salah memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak penting bagi wanita. Bukan begitu.
Ilmu pengetahuan penting bagi siapa saja, dan wajib dicari sepanjang hayat dikandung badan. Tetapi
yang harus dihindari adalah sekolah untuk mengejar gelar. Lantas berharap dari gelar yang
disandang itu akan mendapat tempat tinggi dalam masyarakat.

     Semakin banyak ilmu pengetahuan yang diperoleh tentu semakin baik, asalkan kita tidak
menjadi sombong dengan gelar yang ada. Tidak merasa hanya akan dihargai bila mengedepankan
gelar-gelar itu.

Seharga keimanan

     Jalan terbaik adalah memasang harga diri tinggi, yaitu berdasar keimanan. Standar ini
mendorong kita untuk merasa memiliki harga di mata masyarakat maupun di depan Allah hanya jika
kita memiliki iman.

     Dan inilah satu-satunya harga diri yang kekal abadi, tidak ikut terkubur oleh kehancuran bumi.
Dengan harga diri seperti ini kita bisa bersikap penuh keyakinan, sama sekali tidak tergiur
iming-iming kebendaan apapun, karena harapan satu-satunya adalah keridhaan Allah swt.

     Hanya dengan cara inilah kita bisa hidup tenang, tenteram, bahagia dan penuh percaya diri,
walaupun kita dipandang asing oleh masyarakat karena memiliki pola hidup yang berbeda.
Keimanan yang tinggi sudah cukup membuat diri kita bangga, tidak lagi iri dengan segala macam
kelebihan orang lain selain kelebihan iman. Sebaliknya kita akan merasa sama sekali tidak berharga
manakala keimanan sempat kendur sehingga kita jauh dari Allah swt.