Make your own free website on Tripod.com
 

                   Tentang Godaan Wanita
 

"Ada seorang wanita lewat di depanku, lalu dalam hatiku ada dorongan keinginan
terhadap wanita itu. Kemudian aku mendatangi salah seorang istriku, dan aku
salurkan kepadanya. Hendaknya kalian melakukan yang halal."(HR. Imam Ahmad,
Ath-Thabrani)

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa Muhammad adalah manusia biasa. Beliau memiliki dorongan
syahwat sebagaimana manusia lainnya. Beliau kawin dengan wanita, tapi beliau juga masih (maaf)
terangsang juga bila melihat wanita lain. Nabi Muhammad tidak malu menceritakan keadaannya yang
seperti itu, karena hal ini sangat manusiawi. Adalah kodrat setiap laki-laki mempunyai dorongan
syahwat kepada wanita. Yang demikian itu normal, baik bagi yang belum beristri maupun yang sudah.
Masalahnya sekarang, bagimana cara menyalurkannya?

Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Sebagai makhluq terbaik, Allah melengkapi
penciptaan manusia dengan berbagai instrumen. Selain instrumen fisik yang sempurna, juga instrumen
jiwa. Dalam jiwa manusia minimal terdapat empat unsur, yakni nafsu, aqlu, qalbu, dan ruh.

Tugas nafsu adalah memberi dorongan yang kuat pada manusia untuk mempertahankan hidup dan
segala kenikmatannya. Nafsu ini tidak mengenal etika, aturan, undang-undang, dan segala
tetek-bengek yang berkaitan dengan halal dan haram. Bagi nafsu, yang penting hidup dan enak.

Untuk mengimbangi dorongan nafsu yang menggebu-gebu, Allah menyiapkan perangkat lain yang
berlapis, yaitu aqlu atau akal, yang berfungsi memberi pertimbangan-pertimbangan rasional. Sayang
banyak di antara manusia yang akalnya sudah dikuasai oleh nafsu, sehingga pertimbangannya tidak
rasional lagi. Malah seringkali akal diperbudak oleh nafsu sehingga fungsi akal sekadar melayani
keinginan nafsu dengan cara menyodorkan alasan-alasan yag masuk akal. Dalam istilah lain disebut
rasionalisasi.

Pertahanan pertama bisa saja jebol, tapi Allah masih menyiapkan pertahanan kedua bagi manusia, yaitu
qalbu atau hati, atau bisa disebut juga nurani. Karena akal sudah dikuasai oleh nafsu, nurani sering
tersisihkan. Sesekali muncul menjadi suatu desakan yang kuat, tapi biasanya segera dapat diredam
dengan akal licik yang telah dikuasai nafsu. Meskipun demikian, qalbu tidak pernah tinggal diam. Jika
ada kesempatan ia pasti muncul ke permukaan. Kemunculannya bisa berupa kebimbangan,
kegelisahan, kesedihan, dan keprihatinan.

Pertahanan terakhir adalah ruh. Inilah senjata pamungkas yang tak lapuk oleh hujan dan tak lekang
karena panas. Dalam setiap diri manusia pasti ada kecendrungan untuk mencari Tuhan. Se-atheis-
atheisnya orang, pasti tebersit dalam hatinya tentang Tuhan.

Hanya saja ada orang yang menemukan, tapi sebagian besar tidak. Merekalah orang-orang yang tidak
atau belum mendapat bimbingan Tuhan. Pada diri Nabi Muhammad saw keempat unsur jiwa ini
berperan aktif secara seimbang. Nafsunya kuat tapi bisa diimbangi dengan pertahanan yang lebih kuat.
Pertahanan Nabi ini tidak pernah bobol sekalipun, sebab beliau ma'shum. Akalnya sehat, hatinya
bersih, dan ruhnya berfungsi baik. Dorongan nafsu yang begitu besar akhirnya tersalurkan lewat cara
yang halal, karena akalnya masih bisa memberi pertimbangan yang rasional.

Abdullah bin Mas'ud menceritakan, Rasulullah saw melihat seorang wanita dan mengaguminya. Lalu
beliau mendatangi Saudah yang sedang memakai wewangian. Di sekelilingnya banyak wanita lain.
Merekapun segera menyingkir hingga beliau melaksanakan hajatnya. Kemudian beliau bersabda,
"Siapapun yang melihat wanita dan mengaguminya, maka beranjaklah mendatangi istrinya. Sebab
istrinya memiliki apa yang dimiliki oleh wanita itu." (HR. Ad-Darimi)

Sungguh pertimbangan Rasulullah ini rasional sekali. Itu merupakan tanda bukti bahwa akal sehatnya
tidak dikuasai oleh nafsu. Dorongan nafsu yang kuat seperti itu justru bisa diberi jalan oleh akalnya
dengan cara yang halal, yaitu mendatangi istrinya sendiri.

Nafsu memang tidak perlu dimusuhi, apalagi dimatikan. Yang terpenting adalah memberikan
penyaluran yang halal. Adalah suatu kebodohan jika ada orang yang mengharamkan wanita hingga
tidak menikah seumur hidupnya. Cara terbaik untuk mensucikan diri adalah menikah, bukan
membujang. Inilah ajaran Islam.

Sangat dianjurkan kepada pemuda untuk segera menikah. Bila sudah mampu tak usah menunda. Jika
ia miskin Allah yang bakal memberi kecukupannya. Ini janji Allah kepada yang mau menikah. "Dan
kawinilah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari
hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka
miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia- Nya. Dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nuur: 31)

Satu-satunya cara meredam gejolak seksual bagi pemuda adalah menikah. Akan tetapi jika tidak
mampu, Nabi menyarankan kepada pemuda untuk berpuasa. Seperti disepakai oleh para ahli bahwa
faktor makanan juga besar andilnya dalam memberikan dorongan seksual. Semakin baik makanan
seseorang, dorongan seksualnya semakin tinggi.

Apakah kemudian bagi yang sudah menikah tidak lagi tergoda oleh wanita? Tidak. Godaan itu tetap
ada. Dorongan kepada wanita lain juga tetap ada. Pada diri Nabi saja -- sebagaimana pengakuannya--
begitu kuat, apalagi kita yang bukan nabi dan rasul.

Bagi kita yang hidup di jaman sekarang godaan wanita besar sekali. Di jalan-jalan, di kantor, di
sekolah, di kampus, dan di mana saja selalu didapati wanita-wanita cantik dengan dandanan menarik
dan memikat hati. Mereka ini sebagaimana sabda Nabi, "Sesungguhnya seorang wanita menghadap
dengan bentuk syetan dan mundur dengan bentuk syetan pula. Jika ada di antara kalian melihat seorang
wanita, lalu merasa bergairah, maka datangilah istrinya (salurkan kepadanya). Sebab hal itu dapat
menolak penyakit yang ada dalam hatinya." (HR. Muslim, Abu Dawud, Baihaqy, dan Ahmad)