Make your own free website on Tripod.com
Perhiasan Wanita

Sudah satu tahun saya menjadi pelanggan Sahid, alhamdulillah
banyak kemajuan yang saya rasakan pada diri saya. Saya yang
mulanya tidak banyak mengerti tentang bagaimana seharusnya
menjadi muslimah, kini sedikit mulai mengerti dan mengamalkannya.
Sudah sebulan ini saya selalu mengenakan jilbab setiap keluar rumah.

Sebagai orang awam yang ingin bertanya kepada ustadz, sejauh
mana wanita diperkenankan memakai perhiasan, sementara saya
pernah membaca al-Qur'an yang intinya melarang wanita
menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak. Apa yang
dimaksud dengan yang biasa nampak itu? Terus-terang sebagai
wanita sampai sekarang saya masih memakai kalung, anting-anting
dan gelang tangan. Apakah ketiga perhiasan tersebut termasuk dalam
ayat di atas?

Ustadz, saya sudah berjilbab, karenanya saya ingin tampil penuh
sebagai muslimah yang kaffah. Saya tidak ingin tanggung-tanggung.
Untuk itu saya minta bimbingan ustadz.

Linda di kota S

Jawab

Niat Anda menjadi muslimah kaffah sangat membanggakan. Patut
ditiru dan dicontoh oleh wanita lain yang masih separuh-separuh
dalam menerapkan syari'ah Islam. Meskipun Anda masih awam, tapi
tekad dan kemauan Anda sangat berharga di sisi Allah. Tekad ini
harus terus dipupuk, dirawat, dan dikembangkan.

Untuk itu kewajiban Anda sekarang adalah lebih giat belajar agama
Islam. Untuk memperjelas pertanyaan Anda, kami nukilkan langsung
ayat al-Qur'an yang Anda maksudkan: "Janganlah orang-orang
perempuan menampakkan perhiasannya, melainkan apa yang
biasa nampak daripadanya." (QS. An-Nuur: 31)

Perhiasan adalah apa saja yang dipakai wanita untuk mempercantik
dan memperindah tubuhnya. Ada dua macam perhiasan wanita, yaitu
asli, seperti wajah dan bagian-bagiannya, rambut, dan potongan
tubuh. Kedua, perhiasan buatan, seperti anting-anting untuk telinga,
kalung untuk leher, gelang untuk tangan atau kaki, cincin untuk jari,
make-up untuk wajah dan bagian-bagian lainnya, serta pita untuk
rambut.

Ayat di atas bersifat umum. Batasannya juga bersifat umum, yaitu
yang biasa nampak. Artinya semua perhiasan tidak boleh
diperlihatkan kecuali yang biasa nampak. Dalam hal ini banyak
terjadi perbedaan penafsiran tentang perhiasan yang biasa nampak
tersebut.

Sahabat Anas dan Ibnu Abbas, misalnya berpendapat bahwa yang
biasa nampak itu adalah celak dan cincin. Hal ini menguatkan
pendapatnya bahwa yang boleh dilihat dari wanita adalah dua bagian,
yaitu: wajah dan telapak tangan. Pendapat ini disokong banyak
ulama salaf.

Ada penafsiran yang lebih longgar lagi, yang justru datangnya dari
istri Nabi, 'Aisyah ra. Beliau berpendapat bahwa gelang juga
merupakan perhiasan yang boleh dinampakkan. Ini artinya lengan
yang merupakan tempat gelang boleh juga dinampakkan. Hanya saja
terjadi perbedaan lagi di kalangan ulama tentang batasan lengan
tangan, apakah sampai siku atau beberapa centi dari telapak tangan.

Di samping penafsiran yang longgar ini ada ulama yang menafsirkan
lebih sempit, bahwa yang dimaksud dengan yang biasa nampak
adalah selendang dan pakaian yang biasa nampak dan tidak mungkin
disembunyikan. Menurut pendapat ini seluruh anggota tubuh wanita
harus tertutup rapat, tanpa kecuali wajah dan telapak tangan.

Kami lebih cenderung pada penafsiran pertama, di mana batasan
yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Dengan
demikian maka perhiasan yang boleh nampak adalah celak untuk
mata, dan cincin untuk jari tangan. Selain kedua perhiasan ini
termasuk dilarang untuk dinampakkan.

Adapun make-up yang biasa dipakai oleh wanita modern meskipun
dikenakan pada wajah yang boleh dinampakkan, tapi karena sudah
tidak alamiah, cenderung berlebih-lebihan, bahkan ada motif-motif
untuk menarik perhatian, maka hukumnya tetap haram dipakai.
Kecuali untuk suami dan muhrimnya sendiri. Yang termasuk
make-up adalah cat bibir, cat pipi, cat mata, dan cat kuku. Perhiasan
ini sudah termasuk tabarruj. Allah berfirman: "Dan hendaklah kamu
tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah
laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu." (QS.
Al-Ahzaab: 33)

Menurut kami, pendapat kedua, yang membatasi arti yang biasa
nampak hanya pada selendang dan pakaian luar yang tidak bisa
disembunyikan, kurang pas.

Pendapat ini terlalu berlebih-lebihan, sebab tidaklah mungkin
seseorang bisa menyembunyikan pakaian luarnya. Ini sesuatu yang
lazim, yang tidak perlu lagi dikecualikan. Pendapat ini juga tidak
sejalan dengan batasan aurat yang telah disampaikan Nabi. Dari
'Aisyah ra bahwa Asma' binti Abu Bakar pernah masuk ke rumah
Nabi saw dengan berpakaian tipis, kemudian Nabi memalingkan
mukanya sambil bersabda, "Hai Asma'! Sesungguhnya wanita
apabila sudah datang waktu haidhnya (baligh) tidak patut
dinampakkan tubuhnya, kecuali ini dan ini," sambil menunjuk muka
dan dua tapak tangannya.

Pendapat keharusan menutup seluruh tubuh juga tidak sesuai dengan
perintah Allah dalam al-Qur'an yang menganjurkan laki-laki
menundukkan pandangannya (QS An-Nuur: 30). Jika seluruh
anggota tubuh wanita, termasuk mukanya juga tertutup, apalah
artinya menundukkan pandangan? Ini sebuah isyarat bahwa wanita
boleh membuka wajahnya, juga telapak tangannya.

Meskipun demikian bukan berarti kami menganjurkan Anda untuk
bersikap longgar terhadap masalah perhiasan ini. Kami malah ingin
agar Anda lebih bersungguh-sungguh untuk menyembunyikan
perhiasan yang seharusnya tidak nampak. Baik perhiasan yang asli,
berupa kecantikan wajah dan keelokan bentuk tubuh, maupun
perhiasan buatan, seperti kalung, cincin, make-up, dan sebagainya.
Itulah sebabnya kami menganjurkan Anda melengkapi pakaian
dengan jilbab, dalam pengertian yang benar. Artinya jadikan busana
muslimah bukan sekadar mode, tapi benar-benar bisa menutupi
segala perhiasan yang seharusnya tersembunyi.