Make your own free website on Tripod.com
Jihad Muslimah Era Kini
Lembar Jum'at
 
 

                   Diterbitkan Oleh : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya

                          Bismillaahirrahmaanirrahiim

                  Edisi : 03/VIII, 08 Dzulqa'idah 1418, 06 Maret 1998.

                   Jihad Muslimah Era Kini

  Di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat, para muslimah hendaklah tampil
                             sebagai juru selamat!

Di masa Rasulullah
Ayat-ayat al-Qur'an yang menyeru berjihad tidah hanya diarahkan kepada kaum laki-laki saja.
Namun untuk seluruh ummat Islam. Para istri sahabat ikut serta dalam peperangan bersama kaum
pria. Mereka tidak menyingkir dari peperangan.

Di antara tugas yang dilakukan wanita muslimah adalah memberi minum kepada para pejuang serta
merawat luka mereka. Bahkan di antara mereka ada yang maju di barisan terdepan di tengah
suasana perang di antara kilatan pedang dan sambaran panah. Para pejuang yang terluka ataupun
yang tertimpa musibah lain, mereka bawa ke dalam tenda-tenda perawatan.

Sayyidah Rafidah dianggap sebagai dokter wanita pertama dalam Islam. Rasulullah mendirikan tenda
besar menyerupai sebuah rumah sakit saat ini khusus untuk beliau. Dalam menjalankan tugasnya,
Sayyidah Rafidah dibantu para istri sahabat yang lain. Pada mulanya, ummat Islam membawa para
pejuang yang gugur syahid ke kota Madinah untuk di makamkan di sana. Tugas ini ditangani para
wanita muslimah. Mereka bawa para syahid ke kota Madinah. Mereka menggali tanah untuk
pemakaman para syuhada. Setelah turun wahyu kepada Rasul agar para syahid di makamkan di
medan perang, para wanita jugalah yang melaksanakan tugas tersebut.

Para istri sahabat juga turut berperan dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka turut menentukan
antara perang atau damai, perang atau genjatan senjata. Mereka mempunyai hak "grasi" terhadap
tawanan serta hak mengembalikan harta mereka.

Sebelum berperang, Rasulullah dan para sahabat juga hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka
samua tanpa kecuali mendapat seruan Rasul "Wahai manusia, berikanlah nasehat kepadaku!
Sungguh Allah memerintahkan aku untuk bermusyawarah."

Di antara tugas yang juga dijalani kaum hawa di masa Rasulullah adalah menyediakan makanan dan
minuman bagi para pejuang serta merawat kuda-kuda perang. Selain itu, mereka bertugas
memparbaiki dan mempersiapkan persenjataaan para pejuang di tengah berkecamuknya perang.

Dalam suatu peperangan, pedang yang ada di tangan Khalid bin Walid patah. Melihat hal itu, istri
Khalid yakni Ummi Tamim segera membantu sang suami dengan memberikan senjata yang baru agar
dapat melanjutkan pertempuran. Demikian pula dengan Asma binti Abu Bakar, dia bantu sang suami
Zubair bin Awam dengan persenjataan.

Kehadiran sang istri di samping suami di medan perang sangat memupuk semangat juang mereka. Ini
semua demi membela martabat dan kehormatan serta menampilkan semangat kepahlawanan dan
keluhuran di hadapan istri. Betapa banyak pejuang terpompa semangatnya di medan perang
disebabkan kehadiran seorang perempuan.

Di saat terjadi perang Kodisiah, Al-Khasna seorang penyair wanita membakar semangat juang
empat prang puteranya serta para pemuda muslim untuk berjuang dan bersyahid. Ketika ia saksikan
empat putranya telah gugur sebagai syahid dalam perang tersebut, Khasna tidak menangisi mereka.
Bahkan dia mengucapkan kata-kata yang teramat mashur "Segala puji bagi Allah yang telah
memuliakan diriku dan dengan gugurnya putra-putraku."

Tugas lain para wanita adalah menghalang-halangi para pejuang agar tidak melarikan diri di saat
perang berkobar. Para wanita berdiri dibelakang para prajurit yang sedang berperang. Apabila ada
pejuang yang mundur dari medan perang, sang istri segera menunjuk-nunjukkan anak-anaknya di
mata sang ayah (menunjukkan betapa memalukannya sikap lari dari medan perang.

Saat terjadi perang Yarmuk, Khalid bin Walid menempatkan para wanita di atas bukit yang ada
dibelakang prajurit. Para wanita tersebut akan melempari pejuang yang mundur dari medan laga
dengan kerikil dan kayu, ataupun menyiram mereka dengan debu.

Sebenarnya tugas pokok wanita dalam peperangan bukanlah adu fisik. Meski demikian banyak
wanita perkasa terjun langsung dalam peperangan. Mereka ada yang menggunakan pedang adapula
yang menggunakan panah. Demi membantu para pejuang ataupun menghindari kekalahan.

Dalam berbagai perang besar jumlah wanita dapat mencapai ribuan orang. Sejarah telah mencetat
pahlawan wanita di masa-masa awal Islam. Ummi Amarah Nasibah binti Ka'ab tidak hanya sekali
terjun bersama Rasulullah. Dalam perang Uhud, Ummi Amarah habis-habisan membela Rasulullah
hingga beliau terluka.

Dalam setiap peperangan, jumlah kaum muslimin selalu lebih sedikit dibanding jumlah lawan. Oleh
karena itu ketika pertempuran hampir berkobar, para wanita melakukan penjagaan siang dan malam.
Mereka memberikan kesempatan kepada para pejuang untuk banyak-banyak beristirahat.

Dalam perang Yarmu' semua prajurit tertidur karena kelelahan yang teramat sangat. Sang komandan
Abu Ubaidah bin Jirah tidak mau membebani prajuritnya yang sudah sangat lelah agar berjaga-jaga.
Sehingga meski seorang komandan, beliau sendiri yang melakukan tugas penjagaan. Ternyata beliau
melihat Asma binti Abu Bakar dan sekelompok putri muslimah tengah berjaga-jaga di sekitar
perkemahan. Mereka semua menghunus pedang. Sungguh suatu pemandangan yang sangat indah,
seorang panglima besar dan putri khalifah bersama-sama melakukan tugas jaga.

Demikianlah, sejarah Islam dipenuhi kepahlawanan para wanita. Alangkah baiknya apabila heroisme
yang luar biasa ini kita ungkapkan kepada generasi-generasi kita agar menjadi teladan untuk berjihad
di jalan Allah.

Jihad wanita zaman kini

Pintu jihad bagi para wanita masih tetap terbuka. Apalagi di zaman yang dipenuhi kehidupan yang
serba keras kini. Mereka menempati posisi strategis untuk menjadi benteng-benteng keluarga. Di
saat para suami sibuk mencari kehidupan nafkah untuk keluarga, mereka mempunyai tanggung
jawab mendidik mental dan akhlak anak-anaknya agar tidak turut terseret arus yang terus
menyeretnya ke tubir kehancuran. Inilah bentuk tanggung jawab kaum ibu yang tidak ringan.

Bentuk tanggung jawab ini tidak jauh beratnya dengan para pasukan yang harus menghadapi musuh
secara langsung di medan peperangan. Bila kehadiran pasukan musuh dan hiruk pikuk gelombang
kedatangannya mampu menggelorakan jiwa untuk melawan--pada kondisi seperti itu kita bisa
menumbuhkan semangat perlawanan sebesar-besarnya. Akan tetapi musuh-musuh sekarang sudah
dibungkus dan masuk dalam kemasan-kemasan menarik. Mereka masuk ke dalam sela-sela
kehidupan rumah tangga dengan senjata yang menawan.

Televisi, vedieo, laser disc tidak bisa disangkal mempunyai nilai-nilai manfaat didalamnya. Akan
tetapi tingkat kemudharatannya jauh lebih besar dan berbahaya, jika kita bisa menggunakan secara
tepat..

Ketika agama menganjurkan agar anak-anak Islam pandai memanfaaatkan waktu sebaik-baiknya,
televisi malah sebaliknya; mengajak para pemirsa berfoya-foya dengan waktu dan
membuang-buangnya secara percuma. Ketika agama menganjurkan anak-anak Islam berlaku halus
dan santun kepada orang yang lebih tua dan terhadap masyarakat manusia, vedieo mendidik mereka
dengan perilaku yang kasar dan keras. Begitu juga ketika agama menganjurkan agar anak-anak
Islam manjauhi tingkah laku yang menjurus pada perbuatan zina dan maksiat, laser disc menawarkan
sebagai guru privat zina yang baik setiap saat.

Ibu-ibu yang baik adalah mereka yang menyadari bahwa bentuk-bentuk tontotan seperti itu, kini
bukan semata sebagai hiburan, akan tetapi sudah menjelma menjadi musuh. Mereka secara pelan
telah menggerogoti pikiran dan hati putra-putri kita, agar mereka menjadi liar dan hidup diluar
kendali agama.

Dari rumah kita masing-masing marilah kita kendalikan musuh agar kesewenang-wenangannya tidak
terus merajalela. Dengan segala kesederhanaan kita ciptakan lingkungan yang Islami dilingkungan
rumah masing masing dengan menghidupkan (tontonan) dimana perlu, dan mamatikan teve, vidieo,
laser disc, dan semacamnya di waktu-waktu mulia seperti saat-saat dikumandangkan shalat.
Kemudian kita budayakan membaca al-Qur'an dilingkungan keluarga dan shalat berjamaah.

Sinyal terang Islam itu sudah mulai terang dengan tingkat gairah anak-anak kita ke TPA-TPA yang
ada semakin semarak. Kita semua mempunyai peranan besar untuk memperbaiki kondisi ini terus
menerus. Semoga dengan demikian, para memilik ide kebathilan akan berpikir seribu kali. Semoga
Hidayatullah (hidayah Allah) selalu tercurahkan untuk kita semua. Amiin.
 
 
 
 

                                 Edisi yang lain