Make your own free website on Tripod.com
Duka para Janda

        Dilecehkan, dicibirkan, bukannya dibantu.

Bulan-bulan kemarin ini adalah bulannya para duda. Mereka sedang
naik daun, banyak peminatnya. Lihat saja pernikahan Ria Irawan
dengan Yuma. Juga Novia Kolopaking dengan Emha.

Di kalangan masyarakat kita, status duda memang tidak menjadi
masalah. Atau mungkin bagi beberapa orang malah menjadi
kebanggaan. Masyarakat dapat menerima dengan tangan terbuka
kehadiran mereka dalam kancah kehidupan sehari-hari. Tanpa
prasangka, tanpa gejolak. Semua terasa wajar-wajar saja.

Tetapi lain keadaannya dengan nasib para janda, yang lebih banyak
dipandang negatif ketimbang positifnya. Di banyak tempat mereka
diterima hanya dengan sebelah tangan. Orang memandang penuh
prasangka, curiga, atau dengan picingan mata. Hinaan dan pelecehan
pun kadang terpaksa harus diterima. Bukan hanya dari lelaki, tetapi
juga dari sesama kaumnya.

Padahal dari banyak segi, besar kemungkinan beban yang ditanggung
para janda ini begitu beratnya. Secara umum, laki-laki yang ditinggal
istrinya tak akan sesedih wanita yang ditinggal suaminya. Apalagi
karakter wanita yang lembut perangai dan lemah fisiknya. Ibarat
anak ayam kehilangan induknya.

Bekas istri akan kehilangan tempat bergantung dan berlindung, baik
dari segi fisik maupun ruhani. Juga dari sisi ekonomi. Begitu banyak
janda yang terlunta-lunta karena tak mampu mencari penghasilan
untuk dirinya sendiri.

Belum lagi jika ada anak yang harus ditanggung. Dari segi pendidikan
saja, betapa beratnya peran ibu yang harus sekaligus menjadi ayah
bagi anak-anaknya. Padahal fisik mereka begitu lemahnya. Apalagi
untuk mencukupi biaya kehidupan dan pendidikan mereka yang kian
hari kian membengkak, ini sungguh sebuah beban yang amat berat.
Dalam banyak kasus, keadaan itu sudah di luar jangkauan
kemampuannya sebagai wanita.

ORANG ANEH. Pernah menemukan janda yang memiliki sifat-sifat
aneh? Memang sangat mungkin, mengingat sebagai manusia,
terutama wanita, mereka sangat membutuhkan pasangan hidup.
Penyebab timbulnya keanehan-keanehan sifat itu di antaranya:

1. Tidak tersalurnya kebutuhan aktualisasi diri.

Yaitu perasaan diterima dan dibutuhkan oleh orang lain. Tak ada
orang yang betah hidup sendiri, dikucilkan atau diacuhkan oleh
masyarakat. Keberadaan maupun ketidakberadaannya tak
berpengaruh terhadap orang sekitar. Secara wajar, tak ada orang
seperti ini.

Setiap orang butuh dicintai dan mencintai. Butuh diperhatikan dan
memperhatikan. Butuh dipuji dan memberikan pujian. Butuh pula
mendapatkan kasih sayang dan memberikannya. Semua ini hanya
bisa tersalur lewat kehidupan bersama pasangan hidup.

Dalam kehidupan dengan perkawinan, kebutuhan untuk dibutuhkan
orang lain ini tersalurkan dengan baik, karena suami dengan istri
ibarat badan dengan pakaiannya. Saling membutuhkan dan
dibutuhkan. Ketiadaan salah satu pihak akan membuat pihak lain
kehilangan. Bila perubahan itu harus dialami dalam waktu singkat,
bisa menimbulkan kekagetan, secara fisik maupun mental.

2. Pengikisan sifat kodrati wanita.

Secara fitrah, tiap wanita membawa sifat-sifat feminin sebagai sifat
kodratinya. Beberapa sifat feminin itu semisal butuh perlindungan,
ketaatan pada pemimpin, pengabdian dan pengorbanan, hanya bisa
disalurkan bila ada suami di sisinya. Ketiadaan suami akan
menghilangkan penyaluran sifat-sifat ini, bahkan timbul
kecenderungan mengalami pengikisan.

Akibatnya memungkinkan muncul kepribadian yang aneh, karena si
janda memaksa-maksakan diri untuk menumbuhkan kemaskulinan
dalam dirinya dalam waktu sekejab. Jelas, keadaan ini sungguh berat
sehingga memungkinkan menimbulkan penyimpangan kepribadian.

3. Beban hidup yang terlampau berat.

Mereka yang kehilangan pelindung, pemberi nafkah, pelita hati, dan
harus pula dibebani dengan tugas ganda sebagai ibu sekaligus ayah
bagi anak-anaknya, sangat rentan terhadap kemungkinan ini.

Ada yang menjadi sangat keras dalam mendidik anak karena dirinya
sendiri telah menyimpan perasaan takut dan khawatir yang
berlebihan. Atau justru tak peduli kepada anak-anaknya karena
memikirkan dan mengurus dirinya sendiri pun sudah tak mampu.

DARI berbagai macam kemungkinan penyebab di atas, bisa terjadi
berbagai macam gejala penyimpangan sifat. Misalnya timbulnya
keinginan untuk mencari-cari perhatian dari lingkungan. Banyak
tingkah dan suka mengumbar pembicaraan, misalnya.

Cepat sok tahu dan suka campur tangan urusan orang lain dengan
tujuan menunjukkan bahwa dirinya masih dibutuhkan masyarakat
juga mungkin terjadi. Ada kalanya mereka menjadi suka
menunjuk-nunjukkan kesengsaraannya dengan mengeluh ke sana-ke
mari dan meminta belas kasihan orang. Atau sebaliknya menutupi
kelemahan diri secara berlebihan dan ingin dilihat masyarakat sebagai
janda yang kuat dan berhasil. Lantas ia menjadi seorang pecandu
kerja (workalholic).

HARUS DITOLONG. Masih beruntung bagi janda yang masih
bisa kembali ke rumah kedua orang tuanya. Hidup menumpang
dengan membawa serta anak-anaknya. Minimal ada tempat
berkeluh-kesah meringankan beban pikiran. Tetapi banyak pula yang
terpaksa harus mandiri. Orang tua dan sanak saudara juga tak
mamapu membantu biaya hidup yang besar.

Dari sini semestinya kita mampu menyimpulkan bahwa kondisi
kehidupan janda memang sangat berat. Adalah menjadi kewajaran
belaka jika mereka mendapatkan bantuan. Di dalam struktur negara
Islam, sudah diatur bahwa negara turut bertanggungjawab terhadap
kesejahteraan kaum janda ini.

Di masa kehidupan Rasulullah saw, martabat seorang janda justru
tidak seburuk sekarang. Kondisi saat itu memang sedang dalam
banyak peperangan sehingga banyak kaum lelaki gugur meninggalkan
istri dan anak-anaknya. Dalam kondisi seperti ini masyarakat justru
menaruh hormat dan belas kasih kepada para janda ini.

Teladan yang tak dapat dipungkiri adalah bahwa Rasulullah saw
sendiri telah menjadi suami dari sekian banyak janda. Istri beliau
yang perawan hanyalah Siti 'Aisyah ra. Riwayat menunjukkan,
bahwa pernikahan-pernikahan beliau tidak semuanya berdasarkan
cinta dan ketertarikan beliau kepada mereka. Yang lebih menonjol
justru nampak penghormatan dan belas kasih beliau kepada para
janda mulia ini, sehingga beliau berkenan menikahinya. Sungguh
sebuah penghargaan tak terhingga bagi para janda.

Begitu pula para sahabat yang lain, banyak yang meneladani
perbuatan Rasulullah saw. Mereka menikahi para janda yang
ditinggal mati suaminya dalam peperangan. Tujuan utama bukan
pelampiasan hawa nafsu maupun cinta, namun karena unsur
penghormatan dan kasih sayang.

Itulah sebabnya para janda di zaman itu tidak teralu tersiksa. Tidak
pula disudutkan oleh masyarakat. Janda yang menikah lagi bukan
satu keanehan, bahkan sudah menjadi hal yang wajar. Akibatnya,
jarang ada terdapat janda yang harus banting-tulang dan sengsara
menghidupi keluarganya.

KESIAPAN MENTAL MENJADI JANDA. Bagi si janda
sendiri, hal terpenting yang harus segera dilakukan ketika perceraian
terjadi atau saat suami meninggal adalah dapat menerima kenyataan
dengan lapang dada. Musibah dan kesulitan sebesar apapun selalu
ada jalan keluarnya. Tergantung yang mengalami, mampu atau tidak
mencarinya.

Apabila nampak sebelumnya gejala-gejala terjadinya perceraian, istri
harus sudah bersiap-siap dari segala sisi. Walaupun dalam keadaan
rumah tangga guncang, upayakan pendekatan diri maksimal dengan
Allah swt sehingga pikiran tetap tenang dan bersih. Dengan bekal
pikiran tenang, istri bisa mempersiapkan diri menerima kemungkinan
seburuk apapun yang akan menimpa rumah tangganya. Persiapan
yang harus dilakukan meliputi segi fisik, fasilitas, ekonomi, maupun
dari segi psikologis, seperti perubahan suasana hati, gejolak emosi,
hingga ketahanan mental menghadapi fitnah.

Ada banyak upaya untuk memperoleh nafkah secara halal, asal ada
kemauan dan kerja keras. Berjualan segala jenis makanan, usaha
dagang dan home industri bisa dikerjakan dari rumah. Bekerja di luar
rumah pun diperbolehkan bagi janda yang membutuhkan nafkah.

Itu sebabnya jauh sebelum terjadi sesuatupun Islam sudah
memperbolehkan istri memiliki harta sendiri. Dan perbolehan ini pun
tidak selalu harus kita korbankan. Jika memang istri bisa memperoleh
penghasilan sendiri, lebih baik ditabung untuk keperluan-keperluan
tak terduga yang terjadi pada diri sendiri nantinya.

Yang paling pokok harus dipersiapkan memang kesiapan mental.
Jika mental telah siap menerima, maka kesulitan apapun akan bisa
dicari jalan keluarnya. Ini akan meringankan beban berat yang
menggayut.

Apalagi bagi janda yang harus menerima kenyataan secara tiba-tiba.
Suami meninggal dunia, misalnya, sehingga mereka tak sempat
mempersiapkan diri sebelumnya. Kondisi bisa berubah total secara
spontan. Dari kaya menjadi miskin, dari ramai menjadi sepi, dan
sebagainya. Dan yang mampu menghadapi kondisi ini hanyalah
mereka yang mampu menerima kenyataan dengan lapang dada.