Make your own free website on Tripod.com
Zainab binti Jahasy

  Pernikahannya dengan Nabi diwarnai dengan gosip yang
                        rumit .

Apapun yang yang dilakukan Rasulullah saw. karena di dalam
dadanya sudah tertanam kebencian, maka yang terlihat hanyalah
keburukan. Begitulah yang terjadi tatkala Rasulullah menikah dengan
Zainab binti Jahasy.

Mereka seakan mendapat bahan baru untuk menghantam Nabi.
Lihat! Muhammad sudah berubah, teriak mereka keras-keras.

Tadinya, ketika ia masih di Mekkah sebagai pengajar yang hidup
sederhana, yang dapat menahan diri dan mengajarkan tauhid, sangat
menjauhi nafsu hidup duniawi, sekarang ia sudah menjadi orang yang
diburu syahwat. Air liurnya mengalir bila melihat wanita. Tidak cukup
menikahi 6 wanita, kini ia jatuh cinta lagi kepada istri Zaid bin Haritha
anak angkatnya.

Soalnya tidak lain karena beliau pernah singgah di rumah Zaid ketika
ia sedang tidak ada di tempat itu, lalu beliau disambut oleh Zainab.
Tatkala itu kebetulan ia sedang mengenakan pakaian yang
memperlihatkan kecantikannya. Hati beliau terkesiap melihat
kecantikan Zainab, lantas berucap "Maha Suci Ia yang telah dapat
membalikkan hati manusia!" Ucapan ini diulangi lagi sambil
meninggalkan rumah Zaid. Dan Zainab mendengar kata-kata itu.
Ketika Zaid pulang, istrinya lantas mengadukan kejadian itu.
Secepatnya Zaid mengejar Nabi dan ia mengatakan telah
bersiap-siap menceraikan istrinya. Beberapa waktu memang Zaid
benar-benar menceraikan wanita ayu itu. Tidak berapa lama
kemudian, Nabi menikahi Zainab.

Nabi apa itu!?, hardik mereka. Bagaimana ia membenarkan hal itu
buat dirinya sedang orang lain tidak? Tindakan Muhammad itu
mengingatkan orang pada raja-raja yang hidup bermewah-mewah,
bukan pada para nabi yang shalih dan memperbaiki kehidupan
ummat?

Bagaimana pula ia menyerah pada kekuasaan cinta dalam
hubungannya dengan Zainab, sehingga ia menyuruh Zaid bekas
budaknya supaya menceraikannya. Kemudian ia tampil
mengawininya! Hal semacam itu pada zaman jahiliah dilarang, tapi
Nabinya orang Islam ini membolehkan, karena mau menuruti
kehendak nafsunya, mau memenuhi dorongan cintanya.

Sungguh keji tuduhan mereka. Mereka sesungguhnya telah menuding
ketololannya sendiri. Betapa tidak, Zainab binti Jahsy adalah putri
Umaima binti Abdul Muttalib, bibi Rasulullah. Ia dibesarka di bawah
asuhannya sendiri dan dengan bantuannya pula. Maka dengan
demikian ia sudah seperti putrinya atau seperti adiknya sendiri. Ia
sudah mengenal Zainab dan mengetahui benar apakah dia cantik atau
tidak, sebelum ia dikawinkan dengan Zaid. Ia sudah melihatnya sejak
dari mula pertumbuhannya. sebagai bayi yang masih merangkak
hingga menjelang gadis remaja dan dewasa, dan dia juga yang
melamarkannya buat Zaid bekas budaknya itu.

Kalau perasaan cinta itu sedikit banyak sudah terlintas dalam hati,
tentu ia akan melamar kepada keluarganya untuk dirinya, bukan
untuk Zaid.

Dengan demikian segala cerita khayal --dalam hubungan Muhammad
dengan Zainab--, yang dibawa mereka itu, sudah tidak lagi dapat
dipertahankan dan ternyata samasekali memang tidak mempunyai
dasar yang benar.

ZAID DITOLAK ZAINAB. Sesungguhnya perkawinan Rasulullah
dengan Zainab bukanlah kemauan beliu. Perkawinan itu berdasarkan
perintah Allah, yang darinya kemudian lahir ketetapan hukum yang
berlaku hingga sekarang.

Sejarah mencatat bahwa Rasulullah telah melamar Zainab anak
bibinya itu buat Zaid. Abdullah bin Jahasy, saudara Zainab menolak
jika Zainab yang dari suku Quraisy yang terhormat, apalagi ia juga
sepupu Nabi sendiri, harus diambil oleh Zaid yang budak belian.
Rasa feodalisme dan promodialisme kalau itu masih tertanam kuat di
kalangan Arab.

Jika perkawinan itu sampai terjadi, maka aib besar akan menimpa
keluarga Zainab. Memang belum ada gadis-gadis kaum bangsawan
yang terhormat akan kawin dengan bekas-bekas budak. Tetapi
Rasulullah justru ingin menghilangkan feodalisme dan promodialisme
itu, lewat perkawinan Zainab-Zaid. Ia ingin supaya orang mengerti
bahwa orang Arab tidak lebih tinggi dari yang bukan Arab, kecuali
dengan takwa.

Meski demikian Abdullah tetap kukuh dengan pendiriannya. Rasa
ashobiyah-nya (fanatik golongan) lebih kuat ketimbang perintah
Rasul. Hingga akhirnya Allah swt menurnukan wahyu yang tertulis
dalam al-Qur'an :

"Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula)
bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya
telah menetappkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa
mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah
sesat, sesat yang nyata." (QS. Al-Ahzaab: 36)

Setelah turun ayat ini tidak ada lagi alasan Abdullah dan Zainab untuk
menolak, selain harus tunduk menerima. "Kami menerima
Rasulullah," kata mereka. Lalu Zainab dikawinkan kepada Zaid
setelah mas kawinnya oleh Nabi disampaikan. Jadilah mereka
sepasang suami istri, yang sesungguhnya tampak ideal. Tapi apa yang
terjadi?

Ternyata, suasana rumah tangga mereka sangat tidak nyaman.
Zainab masih merasakan bahwa dia berasal dari golongan terhormat,
tidak pernah sekalipun jadi budak. Tapi kenapa kini mesti hidup
berdampingan dengan seseorang yang pernah menjadi budak di
rumahnya?

Zaid sangat menderita karena keangkuhan Zainab. Seringkali dia
habis kesabarannya menerima perlakuan yang menyakitkan hati.
Tidak sekali dua kali Zaid mengadukan tindakan istrinya itu kepada
Rasulullah, bahkan ia hendak menceraikan pula, saking kesalnya.

Sampailah pada peristiwa yang kemudian diputar balikkan oleh
orang-orang yang antipati kepada Rasul. Ketika itu Rasulullah datang
ke rumah Zaid karena sesuatu urusan yang penting. Tertnyata Zaid
tidak ada di rumah dan ada tirai yang menutup kamarnya. Angin telah
menyibakkan tirai itu, sehingga tampak di dalamnya Zainab sedang
membenahi baju. Rasulullah melihat itu, lantas bergegas pergi sambil
mermbaca "subhanallah al adziim, subhanallah yang membalik
hati,..."Zainab mendengar ucapan itu.

Saat Zaid datang, Zainab menceritakan kejadian itu. Zaid diam
sejenak mendengar cerita itu, kemudian bergegas menemui
Rasulullah. "Ya Rasulullah, aku mendengar Anda telah masuk ke
rumahku. Demi ayah bundaku, adakah sesuatu yang tak pantas,
apakah harus kuceraikan dia?" Zaid bertanya begitu ketemu Rasul.
Rasulullah heran mendengar itu, sehingga beliau bertanya, apakah
ada yang diragukan Zaid dari Zainab? Zaid menyatakan, bahwa tak
ada yang jelek dari Zainab, selain dia yang selalu mengangkat dirinya
dengan sombong. Zaid mengeluh, dia sangat terganggu karena lidah
dan ucapannya. Mendengar itu Rasulullah menyuruh Zaid agar tetap
bertahan. "Jaga baik-baik istrimu, jangan diceraikan. Hendaklah
engkau takut kepada Allah," kata Rasulullah.

Zaid menurut, dia berusaha bersabar dan mencoba bertahan. Namun
semakin ia bertahan, semakin sakit hatinya. Hingga akhirnya terpaksa
Zaid menceraikannya.

Mendengar perceraian itu Rasulullah sedih. Ingin rasanya beliau
menolong Zainab yang masih muda dan cantik, tapi sudah berstatus
janda. Karena kecantikannya dan masih muda itu, bolehlah Zainab
disebut janda kembang. Namun, sungguh berat hidup dengan
menyandang status janda kembang.

Terlintas dalam benak Rasul untuk menikahi Zainab. Apalagi beliau
juga ada rasa suka kepada Zainab. Tapi apa kata orang-orang nanti,
sesorang ayah menikahi bekas istri anak angkatnya. Meski Rasul
terkenal dengan kesabarannya, namun beliau merasa sungguh berat
menerima reakasi orang-orang Arab, jika ia menikahi Zainab.

Tapi Allah tampaknya punya skenario lain. Allah telah menyetir hati
Rasul-Nya agar sejalan dengan skenario itu. Allah memberi rasa
suka kepada Zainab, lantas Dia menurunkan perintah:

"Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah
telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah
memberi nikmat kepadanya:"Tahanlah terus isterimu dan
bertaqwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di
dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu
takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak
untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri
keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan
kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang
mu'min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat
mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan
keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah
itu pasti terjadi." (QS. al-Ahzab: 37).

Inilah skenario Allah itu. Dengan turunnya perintah ini tiada lagi
keraguan pada Rasulullah untuk menikahi Zainab. Tentu saja ayat itu
kemudian menjadi hukum bagi ummat Islam seluruhnya. Dan Rasul
telah memberi contoh. Tiada larangan bagi anak angkat mengawini
bekas istri ayah angkatnya. Dan ayah boleh kawin dengan bekas istri
anak angkatnya.

Bukan hanya tentang hukum perkawinan itu saja wahyu yang turun
berlatar belakang Zainab. Juga tentang perintah hijab, turun tatkala
Rasulullah dan Zainab sedang melangsungkan pernikahan.

Anas meriwayatkan, pesta pernikahan itu berlangsung meriah. Rasul
menyembelih seekor kambing. Lewat Anas bin Malik beliau
mengundang sahabat-sahabatnya. Banyak yang datang pada pesta
walimahan itu. Sekelompok datang, makan kemudian pergi dan
datang lagi. Begitu bergantian.

Setelah tamunya pulang semua, mendadak kemudian Rasulullah
menutup tirai rumahnya, memisahkan aku dengan seisi rumah itu.
Ternyata beliau sedang menerima wahyu yang menyatakan larangan
memasuki rumah Nabi saw dan perintah hijab. Wahyu itu ada di
surat al-Ahzab ayat 53.

SEBAGAI ISTRI. Di antara istri-istri Rasulullah, Zainab dikenal
dengan kedermawanannya. Aisyah, istri Nabi yang paling muda
berkisah: "Rasulullah pernah bersabda: "Paling duluan yang
menyusulku dari kalian adalah nyang paling panjang uluran
tangannya." Setelah Rasulullah wafat, suatu saat ketika kita
berkumpul di rumah salah seorang dari kita, lalu berlomba mengukur
panjang tangan kita pada tembok. Setelah Zainab wafat baru kita
sadar bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah uluran tangan
yang suka bersedekah. Dan Zainab suka pekerjaan tangannya dan
hasilnya disedekahkan untuk sabilillah.

Setelah Nabi wafat, istri-istri beliau mendapat bantuan dana dari
amirul mukminin. Amirul Mu'minin memberikan uang sebanyak 1200
dirham. Usai mengambil secukupnya, uang itu oleh Zainab kemudian
dibagi-bagikan kepada orang-orang yang memerlukannya. Umar
yang mendengar hal itu, lalu memberi lagi 1000 dirham untuk
keperluan Zainab sendiri. Tapi begitu Umar pulang, uang itu
dibagikannya lagi pada yang membutuhkan.

Zainab wafat pada tahun 21 Hijriah, saat ummat Islam mulai
memasuki Iskandariah. Seluruh penduduk Madinah mengantarkan
kepulangannya ke haribaan. Semoga Allah menerima di sisinya.
Amien.