Make your own free website on Tripod.com
 

            Tentang Suara Wanita

        Bukan aurat, tapi tidak boleh dieksploitasi

                            Mengapa bisnis party-line,
                            yakni jalur bebas kendala untuk
                            ngobrol yang jorok-jorok lewat
                            telepon kini laris bukan
                            kepalang? 'Telepon kencan'
                            yang diprotes beberapa
                            kalangan ini menyediakan
                            operator wanita bersuara genit
                            yang siap mencarikan
                            sambungan telepon untuk
                            berbincang apa saja, yang
                            senantiasa berkonotasi negatif.
                            Sebagian besar konsumennya
ternyata remaja, yang biasa tak peduli berapa biaya pulsa telepon
harus dibayar bapaknya.

Menurut pengakuan salah seorang gadis operator sebagaimana dirilis
sebuah majalah ibukota, ia yang bekerja delapan jam sehari rata-rata
ia harus melayani 300 hingga 400 penelepon. Topik pembicaraannya
gado-gado, 'ngalor ngidul', dan berubah 'panas' ketika menjelang
malam hari. Tak ada nama lain dari jalur ini kecuali prostitusi
terselubung, yang fungsinya sudah sampai ke tingkat menyerupai film
biru. Merangsang gairah seseorang, bahkan cenderung memotivasi
orang untuk melakukan onani dan masturbasi. Na'udzubillah.

Bukan main, hebatnya pengaruh suara desah manja, rayuan serta
logat centil dan genit dari suara tanpa wujud. Lawan bicaranya bisa
membayangkan, seluas-luasnya, dan semaunya, untuk memimpikan
sesuatu seakan mengalaminya secara langsung. Data membuktikan,
rata-rata pria yang terlibat pembicaraan seperti ini, betah ngobrol
hingga setengah jam lebih tanpa lelah. Apakah ini tidak termasuk
zina? Bagaimana Islam mengatur mengenai suara wanita ini dengan
bijaksana?

Empat belas abad silam ummat Islam menerima aturan hijab yang
ditetapkan al-Qur'an, salah satunya tentang suara wanita. Saat itu
belum akan terbayang akan terjadi perkembangan teknologi yang
seperti sekarang ini, di mana suara bisa menembus segala pembatas.

Namun, subhanallah, aturan yang ditetapkan Allah SWT tersebut,
ternyata begitu lengkap dan mencakup makna amat luas, sehingga
masih bisa dijadikan pedoman hingga sekarang, dan bahkan untuk
selamanya. Mengenai persoalan suara wanita ini al-Qur'an dan hadits
telah menguraikan di antaranya sebagai berikut.

"Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang
lain, jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam
berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit
dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik." (QS
al-Ahzab: 32)

Di dalam ayat ini terdapat dua syarat yang harus dipenuhi dalam tata
cara berbicara seorang wanita. Yang pertama adalah tidak 'tunduk'
dalam berbicara, maksudnya tidak melemah-lembutkan suara, tidak
dibuat-buat, mendesah-desah, manja, genit maupun merayu.
Tujuannya agar tidak membangkitkan gairah lelaki yang diajak
bicara.

Namun ada pula wanita yang tanpa dibuat-buat, sudah ditakdirkan
Allah memiliki suara yang merdu. Haruskah ia merusak karunia Allah
yang satu ini dan mengubah model suaranya menjadi jelek? Tentu
tidak. Bahkan suara merdu pun sebenarnya termasuk salah satu
kebutuhan hiburan manusia. Yang lebih penting diperhatikan adalah
bagaimana mengarahkan dan membatasi suara merdu ini agar tidak
diselewengkan kegunaannya. Dan, tidak menyalahi syarat kedua.

Apa itu yang kedua? Yaitu tuntunan untuk hanya mengucapkan
perkataan yang baik saja. Tentu yang dimaksudkan adalah isi
pembicaraan tersebut tidak boleh bertentangan dengan
larangan-larangan Allah dan tidak pula sia-sia. Bagaimana dengan
pembicaraan mengenai kesenanghan-kesenangan dunia dan hiburan?
Apakah ini termasuk perkataan yang tidak baik atau sia-sia?

Ternyata tidak. kesenangan dunia dan hiburan, adalah termasuk salah
satu kebutuhan yang manusiawi. Dikatakan Imam Al-Ghazali dalam
bukunya Al Ihya', "Barangsiapa tidak tertarik mendengarkan suara
yang merdu maka ia memiliki kelainan, menyimpang dari
keseimbangan, jauh dari hal-hal yang bersifat keruhanian, lebih keras
perasaannya daripada unta, burung, dan semua jenis binatang,
karena unta dengan semua tabiatnya yang tolol itu merasa
terpengaruh oleh sepatu yang dikenakan orang kepadanya sehingga
ia merasa ringan membawa beban yang berat. Bahkan --karena
asyiknya mendengarkan suara tersebut-- ia merasakan sebentar
meski jauh jarak yang ia tempuh, dan timbullah semangatnya
sehingga ia lupa kepada yang lain, atau timbul rasa iba dan rindu.
Maka Anda lihat unta itu apabila mendengar dendang orang yang
mengiringnya, ia mengulurkan lehernya dan memasang telinganya
untuk mendengarkannya dan mempercepat perjalanannya hingga
berguncang muatan dan sekedupnya."

Memang suara wanita bukanlah merupakan aurat yang tak boleh
diperdengarkan selain kepada mahram. Al-Qur'an mencatat sejarah
ketika putri-putri Nabi Syu'aib berbicara dengan Musa as (QS
al-Qashash: 23, 25). Juga ketika ratu Saba, Bilqis, berbicara dengan
Nabi Sulaiman, kepada rakyat dan para penasehatnya.

Yang boleh didengar

Karena suara wanita bukan aurat, maka boleh diperdengarkan
kepada siapapun asalkan sesuai dengan syarat yang telah ditetapkan
Islam seperti di atas. Apabila dalam kondisi tertentu ada wanita yang
memiliki ilmu tinggi sehingga kaum pria perlu belajar kepadanya,
inipun tidak terlarang dilakukan. Diriwayatkan bahwa Siti 'Aisyah
pun pernah menyampaikan ilmu beliau tentang hadits kepada para
ulama hadits laki-laki yang ingin belajar. Dalam keadaan is sebagai
guru yang sudah pasti menjadi pusat perhatian para murid, maka ia
memasang tabir di antaranya dengan para muridnya.

Mengenai hal ini telah dipesankan juga dalam al-Qur'an, "...Apabila
kamu meminta sesuatu kepada mereka (istri-istri Nabi), maka
mintalah dari belakang tabir..." (QS al-Ahzab: 53). Memang wajar
jika kepada para Ummahatul Mukminin ini berlaku syariah khusus,
mengingat para ibu kaum muslim ini tidak pernah boleh dinikahi oleh
siapapun sesudah wafatnya Rasulullah saw. Namun toh dalam
kondisi khusus ini masih memungkinkan mereka memberikan ilmunya
kepada siapa yang ingin belajar.

Diperbolehkan pula bagi kaum wanita untuk berbicara dengan kaum
lelaki di tempat-tempat umum apabila diperlukan. Seorang wanita
pernah bertanya langsung kepada Nabi Muhammad saw sementara
di sekeliling mereka terdapat kaum laki-laki. Wanita lainnya pernah
menyanggah secara langsung kepada Umar yang sedang berpidato.
Umar tidak marah, bahkan mengakui kebenaran sanggahan dari si
wanita tadi. Begitu pula Fatimah, pernah berdiskusi langsung dengan
Abu Bakar di masjid, di mana banyak kaum laki-laki di sana. Semua
ini diperbolehkan, asalakan tetap memenuhi kedua syarat utama yang
telah ditetapkan sebagai standar.

Bagaimana dengan suara wanita yang bersifat hiburan? Sudah
dijelaskan sebelumnya bahwa hiburan dan kesenangan dunia juga
termasuk kebutuhan manusiawi. Masih diperbolehkan sepanjang
tidak dimaksudkan untuk membangkitkan gairah pendengarnya, dan
isi dari hiburan tersebut tidak sia-sia.

Rasulullah saw pernah membiarkan budak-budak wanita menyayikan
lagu-lagu hiburan di tempat beliau. Beliaupun mengingatkan Aisyah
ketika sedang membawa pengantin wanita kepada pengantin laki-laki
dari Anshar, "Hai Aisyah, tidakkah mereka ini disertai degan
hiburan? Sebab orang-orang Anshar itu gemar sekali kepada
hiburan." (Riwayat Bukhari dan Ahmad)

Diriwayatkan juga oleh Imam Nasa'i dan Imam Hakim, serta
disahkan oleh beliau, dari Amir bin Sa'ad, beliau berkata : "Saya
pernah menghadap Qurzhah bin Ka'ab dan Abu Mas'ud al-Anshari
pada suatu acara perkawinan, tiba-tiba ada beberapa orang budak
perempuan yang menyanyi. Lalu saya bertanya, 'Wahai dua orang
sahabat Rasulullah, yang dulu turut dalam perang Badar, layakkah
dilakukan yang demikian ini di sisi Anda?' Keduanya menjawab,
'Duduklah, mari mendengarkan bersama kami, jika engkau mau; dan
tinggalkanlah jika engkau mau meninggalkannya. Sesungguhnya
diperkenankan bagi kita hiburan pada acara perkawinan."

Suara wanita yang terlarang

Kriteria utamanya sudah jelas, yaitu suara yang dibuat-buat,
merangsang perhatian dan gairah pendengarnya, serta membicarakan
hal maksiyat maupun sia-sia. Termasuk di dalamnya hiburan nyanyian
yang berlebih-lebihan. Suara yang dibuat mendayu-dayu dan
mendesah-desah, manja dan genit, apalagi disertai isi nyanyian yang
tidak mendidik. Keikutsertaan wanita memeriahkan jalur party-line
atau telepon kencan sesungguhnya termasuk berada dalam katagor
ini. Jenis suara itu haram diperdengarkan, karena menyimpang dari
persyaratan.

Sekadar ditinjau dari segi niat saja sudah keliru. Lewat party-line ini,
orang sengaja memasang niat mencari teman ngobrol wanita sebagai
pengusir rasa sepi. Yang dibicarakanpun hal yang sia-sia. Begitu pula
cara mereka mengobrol yang justru mengeksploitasi suara wanita.
Dan satu lagi, rata-rata penjualan jasa party-line ini disertai promosi
dengan iklan gambar wanita yang seronok dan mengumbar aurat.
Jelaslah, semua ini sungguh jauh dari ajaran Islam.

Tak ada alternatif lain kecuali meninggalkan perbuatan yang satu ini.
Kita harus ekstra hati-hati, mengingat masalah paty-line ini sudah
berada di jalan menuju zina. Bukankah jauh sebelum sampai ke zina
itu sendiri Allah sudah memperingatkan manusa untuk tidak
mendekati zina? Berarti Dia melarang kita untuk berada di jalan yang
menuju ke arah sana. Rambu-rambu larangan telah dipasang jauh
sebelumnya, bahkan sebelum orang menyadari akan ada bahaya di
depannya.

Beberapa kalangan bahkan sudah menggolongkan ini sebagai zina
lisan dan zina hati. Maksudnya, zina dalam taraf ringan, yang
dilakukan oleh hati dan lisan seseorang. Biasanya, zina-zina ringan
seperti ini yang tidak dicegah sejak awal, akan menjadi bibit yang
kelak mempermudah terjadinya zina yang sesungguhnya.
Na'udzubillah.