Make your own free website on Tripod.com
 

        Cadar, Apa Tidak Merusak?

Alhamdulillah saya merasa bahagia atas kehadiran majalah Sahid.
Pada foto jendela edisi April dan Mei 1997 ada sosok muslimah
bercadar. Jadi yang ingin saya tanyakan, apakah bercadar itu
memang ada dalilnya dalam al-Qur'an dan Hadits, dan kalau memang
tidak ada apakah bisa disebut bid'ah? Tolong dijelaskan.

Sedangkan berdasarkan al-Ahzab: 33 dan 59 serta al-A'raf: 26 serta
an-Nur: 31 ditambah hadits riwayat Turmudzi itu semua menjelaskan
bahwa yang bukan aurat pada wanita adalah muka dan telapak
tangan sampai pergelangan. Kemudian menurut saya, cadar ini sangat
merusak dalam Islam karena mengajak kita untuk saling tidak kenal
karena hanya mata yang kelihatan, sedangkan orang bisa dikenal
hanya karena muka. Terima kasih.

                                    Rhm, Luwu-Sulsel

Jawab:

Dalam menetapkan suatu hukum, hendaknya kita tidak tergesa-gesa.
Karena kita tidak bisa menetapkannya dengan sepotong atau dua
potong ayat, tanpa melihat ayat-ayat atau hadits-hadits lain yang
berkaitan dengannya.

Dalam kaitannya dengan cadar, sebenarnya terdapat perbedaan
pendapat di antara ulama. Akan tetapi jumhur ulama bersepakat
bahwa cadar itu tidak wajib. Artinya, wajah dan telapak tangan itu
tetap boleh terbuka.

Sebelum kami uraikan tentang cadar ini, terlebih dahulu kami ingin
mengemukakan pertanyaan yang lebih penting, "Mengapa kita lebih
cenderung memukul genderang perang dengan sesama muslim yang
sama-sama berusaha menjalankan syari'at dengan sebaik-baiknya?"
Mengapa kita lebih suka menggunjing akhwat yang memakai cadar,
padahal mereka mempunyai alasan untuk lebih berhati-hati?
Sebaliknya, akhwat yang bercadar, kenapa juga lebih suka
mengolok akhwat yang sudah berhijab, walau tanpa cadar?

Bukankah perang yang sesungguhnya adalah dengan mereka yang
sudah ter-Baratkan? Mereka yang sudah tidak betah di rumah, sibuk
di luar dengan busana setengah terbuka? Kepada merekalah kita
bidikkan panah agar tepat sasaran. Kenapa kita sibuk membid'ahkan
akhwat kita yang bercadar, atau mengganggap maksiat kepada
akhwat yang sudah berhijab (tanpa cadar)?

Kami sendiri berpendapat bahwa cadar itu tidak wajib. Artinya
hukum memakai cadar itu mubah, boleh. Jika memakai tidak
mendapat pahala, jika menanggalkannya tidak berdosa.

Adapun yang wajib bagi wanita muslimah adalah berhijab dengan
mengenakan jilbab yang memenuhi syarat menutup aurat. Pakaian
yang dimaksud adalah menutup semua anggota badan kecuali muka
dan telapak tangan, tidak terlalu tipis dan tidak pula ketat sehingga
tidak menampakkan bentuk badan.

Imam Empat yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali bersepakat
bahwa wanita diperbolehkan membuka wajah dan kedua telapak
tangannya. Dalam kitab Al-Ikhtiyar, Imam Hanafi menyampaikan
bahwa selain muka dan tangan, wanita juga boleh menampakkan
kakinya. Artinya wanita tidak dipersyaratkan memakai kaos kaki.
Menurutnya, kaki bukan aurat mutlak sebab kaki diperlukan untuk
berjalan sehingga akan tampak. Selain itu rangsangan syahwat dari
muka dan tangan jauh lebih besar dibandingkan dari kaki.

Imam Syafi'i menambahkan alasannya bahwa wanita yang sedang
ihram tidak diperbolehkan mengenakan kaos tangan dan cadar.
Logikanya, jika muka dan tangan merupakan aurat, maka tidak
mungkin syari'at Islam justru memerintahkan untuk membukanya
pada saat ibadah ihram. Sesuatu yang asalnya wajib tentu tidak
mungkin dianulir oleh kewajian yang lain.

Kewajiban menutup aurat dan kebolehan membuka wajah dan
tangan itu didasarkan pada nash yang jelas sebagaimana Anda
tuliskan, yakni Surah an-Nur: 31

"Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang
biasa tampak daripadanya." (QS. An-Nuur: 31)

Seluruh ahli tafsir bersepakat bahwa yang dimaksud dengan
perhiasan yang biasa tampak adalah celak dan cincin. Artinya tempat
celak yaitu wajah, dan tempat cincin yaitu tangan adalah boleh
diperlihatkan.

Pendapat ini diperkuat lagi dengan hadits Rasulullah yang
diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa Asma binti Abu Bakar yang
pernah menghadap Nabi saw dengan mengenakan pakaian yang
tipis, lalu Nabi berpaling seraya mengingatkan, "Wahai Asma,
apabila wanita telah haid (sudah dewasa), maka tidak boleh tampak
dari tubuhnya selain ini dan ini," dan beliau berisyarat kepada wajah
dan kedua tangannya.

Adapun para pengguna dan pendukung cadar, mereka berpendapat
bahwa dengan cadar para wanita akan lebih terlindungi. Penggunaan
cadar, menurut mereka adalah usaha preventif, yaitu menutup pintu
kerusakan. Atau dalam istilah fiqihnya disebut saddudz-dzari'ah.
Menurut golongan ini, perkara yang mubah bisa saja dicegah jika
dikhawatirkan akan mendatangkan yang haram. Menampakkan
wajah asal hukumnya adalah mubah, tapi jika dikhawatirkan akan
mendatangkan fitnah, yaitu terundangnya syahwat, maka menutup
muka menjadi wajib. Karenanya, mereka tetap menganggap bahwa
cadar itu wajib dengan alasan ini.

Bagi kita, syari'at Islam itu merupakan usaha preventif dan kuratif
sekaligus. Karenanya, apa yang dimubahkan oleh syari'at, harus
tetap kita pandang sebagai mubah. Tidak menjadi wajib, sunnah,
makruh, atau haram.

Soal pendapat pribadi tentang cadar --dan tentang apapun--
sebaiknya jangan dimuati dengan emosi. Merusak atau tidak,
tergantung kepada yang bersangkutan. Toh mereka yang bercadar
juga tetap bisa melakukan aktivitas secara normal tanpa dianggap
mengganggu lingkungannya, bukan?

                                            Pengasuh