Make your own free website on Tripod.com
 

         Wanita dan Media Sekuler

       Silakan dibaca, asal dengan sikap dan syarat

Satu lagi majalah wanita sekuler beredar di Indonesia. Dan yang
satu ini bukan main-main, karena tarafnya internasional. Majalah ini
memegang lisensi dari majalah wanita top dunia, Kosmopolitan.
Penerbitan perdananya di Jakarta cukup menggebrak. Dengan harga
yang tidak terlalu mahal untuk kualitas yang lumayan, majalah ini
langsung mendapat sambutan hangat banyak kalangan.

Sebelumnya, majalah dan tabloid wanita sudah cukup marak
menguasai pasar kaum hawa di Indonesia, dan kini persaingan itu
kian meriah. Oplag mereka yang sangat besar menandakan bahwa
majalah dan tabloid sejenis ini memang sangat lekat di hati
masyarakat.

Ditinjau dari segi pengembangan misi, mereka sudah bisa dinilai
berhasil. Tentu saja misi mereka bertentangan dengan misi Islam,
namun tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat, muslimah sekalipun,
ternyata justru menjadi pendukung barisan majalah dan tabloid
sekuler ini.

Dengan melihat keberhasilan misi kaum sekuler di bidang media
massa khusus wanita ini, secara tak langsung dapat kita prediksikan
sampai sejauh mana taraf berpikir kaum hawa di negeri kita.
Bukankah media massa adalah sarana sangat efektif dalam
membentuk pola pikir seseorang?

Kalau masih banyak muslimah yang tak mengenal fiqh mar'ah
agamanya sendiri, adalah sangat wajar. Mungkin mereka tak pernah
mendengar, tak pernah memperoleh informasi, atau justru
memperoleh informasi yang keliru tentang syariah agamanya sendiri.
Sudah bukan rahasia lagi jika media sekuler akan selalu
mendiskreditkan Islam, dan menjauhkannya dari hati ummat. Dan
karena dilakukan dengan sangat halus, hampir tak terasa, sehingga
hanya segelintir orang yang menyadari proses sekulerisasi pola pikir
ini.

Acara Buah Bibir yang ditayangkan RCTI setiap Senin malam,
adalah sebuah kasus yang patut dipelajari. Acara ini dikemas dengan
menarik, mendatangkan para tokoh dan selebritis, ditunjang tata
artistik yang apik, dan menyuguhkan topik-topik unik.

Sebagian besar adalah mengenai drama kehidupan rumah tangga,
menyangkut tentang kewanitaan dengan banyak liku-likunya.
Misalnya mendiskusikan tentang seorang janda kaya beranak dua
yang memiliki suami simpanan, istri yang minta cerai gara-gara suami
mempermasalahkan tentang keperawanannya yang hilang, dan masih
banyak lagi.

Sayangnya, semua kasus-kasus kehidupan itu mereka diskusikan
bersama dengan nara sumber pilihan mereka sendiri, tanpa memiliki
pedoman yang jelas dan akurat kecuali pendapat masing-masing.
Padahal, setiap penyelesaian semestinya bisa dicarikan lewat
pedoman yang pasti. Bagi muslim tentunya mengacu kepada
al-Qur'an dan sunnah. Aturan Islam sudah jelas dan tegas tentang
banyak hal, namun orang masih berusaha mencari-cari yang sesuai
dengan keinginan dan hawa nafsu mereka sendiri. Na'udzubillah.

Melalui acara ini kita bisa menilai, bahwa kaum wanita Indonesia,
yang muslimah sekalipun, ternyata belum mengetahui pedoman
tentang kehidupan mereka sendiri. Mereka benar-benar termakan
pancingan musuh-musuh Islam yang menjauhkan muslimah dari
ajaran Islam sendiri.

Menyiasati dengan benar

Alhamdulillah, karena ummat Islam masih memiliki majalah Ummi,
Anida, Sakinah, dsb. Majalah-majalah ini memang dikhususkan
untuk kaum muslimah, dan membawa misi Islam yang suci. Namun
masih ada banyak sekali hambatan yang menyebabkan
majalah-majalah ini belum banyak diminati masyarakat.

Majalah beroplag sedikit (dibanding majalah wanita umum) ini baru
bisa memenuhi kebutuhan segolongan muslimah saja. Sementara
masih lebih banyak muslimah lain yang tidak merasa perlu
membacanya. Sama artinya, misi Islam dalam bidang ini masih gagal.
Siapa yang salah?

Ya, memang ini semua kesalahan kita sendiri. Bukan kesalahan para
Yahudi yang secara sunnatullah pasti punya misi menjatuhkan Islam.
Bukan pula salah para feminis yang membenci syariah-syariah Islam.
Tetapi salah kita sendiri, kaum muslimah, yang belum mampu berbuat
apa-apa untuk Islam. Untuk perbaikan nasib kita sendiri.

Muslimah Indonesia dituntut untuk memiliki media massa bernuansa
Islam yang mampu menjangkau seluruh kalangan kaum hawa di
negeri ini. Menjangkau kalangan yang kuat ke-Islamannya, maupun
yang masih muallaf dan awam. Semestinya ada media massa Islam
yang bisa dijadikan idola bagi kaum muslimah sendiri.

Tak dapat dipungkiri, kekuatan jamaah kita masih lemah. Belum
profesional, belum pula memiliki dana yang kuat, apalagi potensi
sumber daya manusia yang handal. Walaupun begitu, bukannya kita
tak memiliki kans untuk menuju ke sana. Kita tak boleh ragu dan
putus asa untuk selalu mencoba dan berusaha. Suatu waktu kelak,
jika kita telah berusaha semaksimal mungkin, pasti pertolongan Allah
akan datang juga.

Kini, sambil menunggu munculnya semakin banyak media massa
Islami yang dibutuhkan kaum muslimah, apa yang bisa kita lakukan?
Apakah kita akan mengupayakan keluarnya fatwa haram untuk
membaca majalah dan tabloid wanita sekuler yang beredar di
masyarakat? Tentu saja tidak. Bagaimanapun juga, media massa
adalah kebutuhan setiap individu yang ingin berkembang. Jika yang
tersedia hanya media yang umum, dan cenderung menentang misi
Islam, itu tetap bisa dimanfaatkan. Tetapi dengan beberapa syarat
tertentu, yang akan dibahas di bawah ini.

1. Mencari informasi, bukan hiburan

Sangat penting untuk menentukan tujuan utama mengapa kita
membaca satu majalah atau tabloid. Beberapa hal yang biasanya
akan kita peroleh, antara lain, informasi mengenai berbagai macam
kejadian, ulasan atau komentar yang diungkap di balik setiap
peristiwa, dan ajakan untuk melakukan sesuatu.

Informasi, adalah satu-satunya bagian yang bisa dinilai paling
obyektif. Meskipun kenyataannya kadang informasi yang disajikan
pun tidak sepenuhnya benar, karena sudah diramu dengan tambahan
bumbu-bumbu cerita dari pembawa berita yang tidak bertanggung
jawab.

Bagian kedua dan ketiga, inilah yang mencerminkan misi utama
sebuah media. Terhadap bagian-bagian inilah yang paling perlu kita
waspadai, karena sesungguhnya seringkali kita terperangkap tanpa
sadar. Dan ternyata justru bagian-bagian inilah yang amat sulit untuk
ditemukan pembaca.

Ulasan atau opini penulis, seringkali membaur menjadi satu dengan
informasi peristiwa, sehingga akan sulit lagi untuk membedakan mana
yang informasi sesungguhnya, mana pula yang persepsi. Redaktur
tetap akan membawa misinya sendiri, apakah sesuai dengan Islam
atau menentangnya.

Kisah tentang sukses seorang perdana menteri wanita, misalnya,
akan diiringi ulasan bahwa seperti itulah hakekat wanita ideal, yang
mampu sederajat dengan kaum laki-laki, yang mampu
mengembangkan diri sebagai pemimpin. Seandainya redaktur
membawa misi Islam, kisah ini tidak akan diulas dari segi
keberhasilannya melampaui banyak laki-laki, tetapi dari segi
keberhasilan si tokoh dalam mengembangkan potensi dirinya saja,
sambil memberi pengertian bahwa memang ada beberapa wanita
tertentu yang ditakdirkan memiliki kemampuan memimpin lebih baik
dari laki-laki, seperti halnya Ratu Bilqis. Tetapi, ini perkecualian yang
tidak harus diikuti oleh semua wanita.

Bagian ketiga, yaitu ajakan melakukan sesuatu, bukan hanya secara
nyata ditunjukkan oleh iklan-iklan yang terpampang indah dari
halaman ke halamaan, tetapi juga menyatu ke dalam seluruh artikel
yang ada. Justru jenis yang terakhir inilah yang sangat perlu
diwaspadai, kaena sering kita terpengaruh tanpa sadar sama sekali.

Setelah meyakinkan pembaca tentang pentingnya seorang wanita
berpenampilan modis misalnya, selanjutnya media cetak pun
menyediakan rubrik desain busana, dengan mengetengahkan topik
busana mini, busana pesta maupun pakaian kerja yang menjauhi
syariat Islam. Rubrik ini sekilas nampak seperti mengetengahkan
beragam corak mode untuk dinikmati saja, namun sebenarnya secara
tak langsung sekaligus mengajak pembaca untuk mengikutinya, atau
setidaknya mengaguminya. Belum lagi ajakan yang nyata lewat
beragam iklan yang konsumtif, tidak edukatif, bahkan melanggar
syariat.

2. Beristighfar

Maksudnya, tidak setiap kita membuka halaman majalah lantas kita
mengucapkan astaghfirullah. Cukuplah sekali saja kita beristighfar.
Yang lebih penting adalah hikmahnya, bahwa kita membaca majalah
tersebut ada kesalahannya, dan kita berlindung dari akibatnya yang
lebih jauh lagi.

Ini perlu dilakukan, karena sekuat-kuat iman seseorang, bila dirawat
dengan cara yang salah akhirnya bisa rusak juga. Niat semula hanya
sekadar baca-baca, tapi lama toh terbiasa juga. Istighfar kita itu
mudah-mudahan sedikit bisa menjadi penghambat pembiasaan itu.

3. Menghindari info maksiyat

Jika sudah jelas sebuah artikel mengupas hal yang tergolong
maksiyat, lebih baik tidak dibaca, kecuali untuk tujuan tertentu
semacam pengembangan ilmu. Bagi kita yang tidak berkepentingan,
bukankah lebih baik membaca artikel lain yang lebih bermanfaat?

Menghindari gambar maksiyat pun harus dilakukan. Sangat perlu
mengingat kembali bagaimana gambar-gambar maksiyat yang
terekam ke dalam otak ini lama-kelamaan akan mempengaruhi
proses perubahan jalan pemikiran tanpa kita sadari.

4. Waspadai narasumber

Secara umum, majalah dan tabloid wanita justru sering menjadikan
para bintang dan selebritis sebagai penarik perhatian. Para tokoh ini
menceritakan pengalaman, kebiasaan dan prinsip hidupnya dengan
cara yang menarik, sehingga mempengaruhi pembaca untuk
membenarkan semuanya.

Padahal, bukankah cukup kita mafhumi, bahwa para selebritis itu
sangat miskin akan nilai dasar Islam? Pola pikir dan sepak terjang
mereka telah memberi tahu, bahwa Islam merupakan barang asing
bagi mereka.

5. Dinetralkan dengan media Islami

Jangan hanya memandang sebelah mata terhadap media Islam,
sekalipun mungkin penampilan dan sajiannya nampak kampungan.
Setidaknya keberadaan media-media itu perlu untuk mencuci otak
dan menetralisir pikiran buruk. Jadikan media-media itu pendamping
selain kita juga membaca al-Qur'an dan rujukan-rujukan standar
yang lain.