Make your own free website on Tripod.com
 
 

Wanita Tak Bisa Pegang Rahasia?
Kuncinya: jaga lidah, cari teman yang baik, jauhi penyakit hati

"Jeng, sudah dengar kabar terbaru?"
celetuk seorang ibu di dekat telinga ibu
lain yang duduk di sebelahnya. Melihat
reaksi yang diajak bicara hanya
mengangkat alisnya, si ibu dengan
bersemangat berbisik, "Kabarnya, tahun
ini yang harus mutasi ke Kalimantan ada
tiga orang." Maka yang dibisiki
benar-benar memperhatikan dan dengan
antusias bertanya, "Siapa saja?" Merasa
mendapat perhatian, ibu yang pertama
tersenyum-senyum penuh arti.
Setelah didesak lagi, barulah ia melanjutkan, "Kata suamiku, sudah
diputuskan dalam rapat kemarin malam, Pak Danu, Pak Sis, dan Pak Waluyo
yang dapat giliran mutasi." Hah... apa betul? "Iya... betul. Tapi, jangan bilang
dulu sama siapa-siapa. Kan orangnya sendiri juga belum diberi tahu."
Selanjutnya acara rapat dan arisan pagi itu menjadi tidak lagi menarik bagi
beberapa ibu di deretan tersebut, kalah dengan menariknya berita baru penuh
sensasi tersebut. Ya, bagi keluarga besar karyawan pabrik gula yang sedang
berkumpul itu, memperoleh giliran mutasi tugas adalah sebuah hal yang harus
dilalui, sekaligus menjengkelkan. Setiap tahun akan ada pertukaran pegawai,
karena pabrik gula tersebut memiliki dua lokasi, di Jawa dan Kalimantan.
Adalah keberuntungan bagi karyawan Kalimantan yang dipindah ke Jawa,
dan sebaliknya bagi mereka yang dari Jawa harus pindah ke Kalimantan.
Itu sebabnya berita baru yang benar-benar hangat ini dengan cepat segera
beredar dari mulut ke mulut, hingga ketika arisan usai hampir seluruh peserta
telah mengetahuinya. Esok hari, pimpinan pabrik gula sangat terkejut karena
harus menerima ketiga calon 'korban' mutasi itu di kantornya dengan maksud
memprotes kebijakan tersebut. Sang pimpinan menjadi amat gusar, bagaimana
mungkin keputusan rapat yang belum final itu bisa tersebar dengan cepat?
Padahal, ia sendiri masih dalam tahap mempertimbangkan, dan masih banyak
kemungkinan nama-nama itu berubah lagi. Namun, rencana menjadi kacau
gara-gara rahasia keburu menjadi bocor.
Begitulah hebatnya wanita, jika memperoleh berita hangat, tak peduli lagi pada
tingkat kebenarannya. Apakah shahih, dhaif atau bahkan fitnah. Walaupun
pahit, nampaknya harus diakui bahwa pada umumnya wanita kurang pandai
menyimpan rahasia.
Sejarah mencatat, para ummul-mukminin, kaum wanita yang sudah begitu
terjaga aqidah dan akhlaknya, pun pernah ribut berseteru gara-gara persoalan
ini. Alkisah, diriwayatkan dalam surat Tahrim, bahwa Rasulullah saw sedang
berada pada giliran di rumah Hafsah ra. Tetapi pada saat itu pemilik rumah
sedang keluar. Tatkala Rasul sedang sendiri, lewatlah Mariyah, istri beliau
yang lain, di depan rumah. Maka beliaupun memanggilnya dan keduanyapun
berbincang di rumah Hafsah. Hingga ketika Hafsah pulang, amatlah marah ia
melihat keduanya. Untuk menenangkan Hafsah, Rasulullah berjanji tak akan
mengulangi lagi kejadian itu, namun beliau minta agar Hafsah merahasiakan
apa yang sudah terjadi.
Kelanjutan kisah bisa diduga, di mana Hafsah tak mampu menyimpan rahasia
dan menceritakan kejadian tersebut kepada Aisyah ra, yang sejak semula
sudah sangat cemburu kepada Mariyah. Tentu saja, berita ini semakin
membuat Aisyah gusar dan berusaha semakin menjauhkan Mariyah dari
Rasulullah saw.

Mengapa sulit?
Kalau disebut sebagai kelemahan kaum wanita, memang ada benarnya, karena
jelas keberadaan sifat ini tidak akan menguntungkan. Namun, di balik
kekurangan yang sudah dibawa secara kodrati ini, ada hikmah besar yang
diperoleh kaum wanita karenanya.
Bahwa wanita rata-rata suka banyak bicara, itu sudah menjadi rahasia umum,
karena mereka memang butuh banyak ngomong sebagai pelampiasan
perasaannya. Wajar bila banyak di antara kaum wanita menjadi ahli dalam
berbicara dan berkomunikasi. Dan wajar pula bila banyak di antara mereka
yang suka membocorkan rahasia. Keahlian-keahlian itu kadang masih
ditambah dengan gampangnya membesar-besarkan atau memutarbalikkan
fakta, pandai bersilat lidah, merayu, hingga menyebarkan gosip. Beberapa
sifat bahkan dicantumkan dalam al-Qur'an, seperti memperolok kelompok lain,
juga berghibah dan memfitnah.

Memperlemah kelemahan
Begitulah, Allah swt menciptakan wanita dengan sekian banyak kelemahan,
adalah untuk diperjuangkan agar bisa berubah menjadi positif. Semuanya
kembali kepada pribadi masing-masing, mampukah ia mengendalikan hawa
nafsunya dan mengarahkan karakternya di jalan yang lurus. Berikut adalah
beberapa resep untuk mengurangi sifat-sifat buruk tersebut.

1. Mengikhlaskan hati
Menumbuhkan keikhlasan, memang bukan main susahnya. Tetapi mereka
yang sudah bisa ikhlas, hatinya menjadi amat bersih dan lapang dalam
menghadapi setiap persoalan. Mereka bisa menahan sakit hatinya, dan
mengembalikan semuanya kepada Allah swt, meyakini bahwa setiap
kesalahan tak pernah luput dari balasan-Nya. Maka itu sudah cukup baginya,
sehingga ia tak lagi ingin menyimpan dendam kepada orang yang membuat
hatinya sakit.
Mereka yang ikhlas pun bisa memberikan kasih sayang yang tulus tanpa
mengharapkan imbalan, dapat dengan mudah memaafkan orang, dan sekaligus
memahami kekurangan-kekurangan orang lain. Sama sekali tak terbersit
keinginannya untuk membuat susah orang lain.

2. Mengendalikan hawa nafsu
Ketika seorang ibu merasa senang karena menjadi pusat perhatian setelah
menyebarkan sebuah berita, maka berhati-hatilah dengan godaan nafsu itu.
Banyak penyakit kaum wanita yang asal-mulanya didasari oleh keinginan
menjadi pusat perhatian, atau perasaan iri melihat kebahagiaan orang lain,
juga perasaan benci dan keinginan untuk membalas dendam. Sungguh,
penyakit-penyakit hati seperti ini memang amat potensial menyerang kaum
wanita.
Kesemua penyakit itu dapat diatasi dengan kesadaran penuh disertai latihan
intensif untuk mengendalikan hawa nafsu. Lewat ibadah puasa, misalnya.
Juga dengan cara memilih teman yang baik, yang tidak mengajak kepada
kesalahan dan mampu memperingatkan jika lidah kita mulai hendak terpeleset.

3. Menjaga lidah
Yang satu ini adalah pesan khusus dari Rasulullah saw, melalui hadits beliau,
"Manusia tidak akan teguh imannya, sebelum hatinya teguh, dan tidak akan
teguh hatinya sebelum lidahnya teguh." (HR Ahmad)
"Hendaknya engkau lebih baik diam, sebab diam itu menyingkirkan syaithan,
dan menolong bagimu dalam urusan agamamu." (HR Ahmad)
"Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka
berpaling dari padanya dan mereka berkata, 'Bagi kami amal-amal kami, dan
bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul
dengan orang-orang jahil.'" (QS al-Qashash: 55)
 
 

        Tarbiyah  |  Usrah  |  Konsultasi  |  Kembali ke atas