Make your own free website on Tripod.com
 

        Lapang Dada Menghadapi Wanita
 Maunya mengingatkan, bisa dianggap menyimpan kebencian.

     Tiani masuk rumah dengan wajah merah dan bersungut-sungut. Rudi, suaminmya, yang
sedang mencuci motor di teras depan rumah memperhatikanya dengan air muka heran. Masih
dengan muka masam Tiani meletakkan tas dan map, melepas sepatu lantas berjongkok di teras
sembari memperhatikan suaminya yang nampak sibuk. Pandangannya menerawang sebentar
kemudian sederet kalimat pun meluncur dari bibirnya yang masih cemberut, "Payah kerja dengan bu
Vian. Itu.. istrinya Pak Abdullah itu lho pak. Bisanya cuma ngomong, kerjanya nggak ada. Kalau
ada rapat begini pasti sibuk mengeritik. Berani-beraninya dia bilang bazaar yang akan kita adakan
bulan puasa nanti nggak efektif. Nggak banyak peminat, dan macam-macamlah. Padahal pengurus
sudah lama berunding merencanakan itu. Dia saja yang tak pernah datang di rapat- rapat
sebelumnya. Dia kan nggak tahu pertimbangan- pertimbangan kita. Dasar sok tahu..."
     Rudi yang mendengar gerutuan istrinya tak berkomentar apa-apa lagi. Ia melihat gelagat tidak
baik. Dan jika ia sedikit saja menanggapi, justru istrinya itu akan bertambah panas lagi. Ia cuma
manggut-manggut saja sambil tetap meneruskan pekerjaannya.
     Tiani masih meneruskan keluhannya tentang kekacauan rapat PKK yang baru saja ia hadiri.
Nampaknya ia tersinggung sekali, ada orang yang berani mengeritik idenya. Padahal selama ini ia
yang menjabat sebagai ketua PKK selalu dituakan dan dihormati oleh ibu-ibu di kampung mereka
itu.

ANTI KRITIK. Apa yang dialami Tiani, banyak pula menimpa kaum wanita pada umumnya. Sulit
menerima kritikan, walau sebaik apapun kritikan itu. Merasa seperti mendapat serangan, lantas
membela diri sebisanya.
     Adalah sebuah kenyataan, bahwa pada umumnya wanita lebih sulit menerima kritik ketimbang
lelaki. Walaupun tetap ada saja laki-laki yang karena keadaan tertentu memiliki sifat yang sulit
menerima kritik. Dan sebaliknya ada wanita yang dengan mudah bisa berlapang dada menerima
kritik setajam apapun. Tetapi itu termasuk kekecualian.
     Apalagi jika kasusnya seperti yang dialami Tiani, di mana ia mendapatkan kritik langsung di
depan umum, oleh orang yang sejak semula sudah tidak ia sukai pula. Tiani merasa dipermalukan.
Bahkan karena sejak sebelumnya ia telah berpendapat negatif terhadap si pemberi kritik, maka
ketika orang tersebut benar-benar menentangnya, reaksi Tianipun terlalu keras.
     Cepat tersinggung memang sudah pembawaan wanita, tetapi tidak berarti kondisi ini harus
dibiarkan, atau dimunculkan pada saat yang tidak tepat. Perasaan yang peka, cepat tersinggung, dan
pendendam, cepat berprasangka buruk, membuat seseorang tidak lagi bisa obyektif dalam
menanggapi sesuatu, termasuk kritik yang membangun.
     Bagaimana mengendalikan perasaan agar tidak sering salah persepsi? Ada dua cara yang bisa
ditempuh. Pertama, dengan membersihkan hati. Hati bisa bersih jika kita mampu belajar ikhlas.
Keikhlasan bisa tumbuh manakala keimanan dan aqidah seseorang sudah mantap.
     Berikutnya adalah dengan latihan. Tak mungkin sifat-sifat buruk bisa hilang tanpa latihan
sedikit demi sedikit. Latihan pengikisan sifat buruk inipun baru bisa dilakukan jika ada ujian. Seperti
kritik yang diterima Tiani, sesungguhnya harus dianggap sebagai ujian dari Allah agar mampu
mengikis sifat buruk yang ada.

PENDEKATAN KHAS WANNITA. Memang tidak bisa disamakan, mengeritik wanita dengan
menghadapi pria. Biarpun ujung-ujungnya sama, agar koreksi bisa dilakukan, tetapi bila tidak tepat
caranya, bisa-bisa menjadi bumerang. Selain tujuan tak tercapai, yang bersangkutan bisa menjadi
musuh.
     Sangat perlu untuk memahami seperti apakah model wanita yang hendak dikritik. Dan bila
ternyata wanita itu termasuk yang gampang tersinggung, perlu ada rekayasa sedikit menghadapinya.
Beberapa di antaranya:

1. METODE INDIVIDUAL DAN KEKELUARGAAN
     Yaitu dengan menyampaikan kritikan tidak di depan umum. Pilih waktu yang tidak diketahui
orang lain. Lebih baik jika didahului dengan menjalin keakraban. Jika suasana telah memungkinkan,
barulah kritik dilancarkan.

2. MEMBERI PENGHARGAAN
     Dengan cara menghargainya terlebih dahulu, orang akan merasa dihormati. Setelah itu, orang
akan ;lebih gampang untuk diingatkan. Cara ini lebih mungkin berhasil, karena orang tersebut telah
menyimpan nilai positif terhadap kita, sehingga cenderung menanggapi positif niat kita berbicara.
     Memberi penghargan ini bisa dengan membicarakan terlebih dahulu beberapa kelebihan yang
ia miliki. Atau beberapa keberhasilan yang telah ia peroleh. Yang penting tunjukkan bahwa kita
tidaklah lebih tinggi dari pada dia.

3. BAHASA YANG HALUS ATAU SINDIRAN
     Masalah bahasa penting bagi wanita, karena seringkali berhubungan langsung dengan
perasaan. Wanita memang peka sekali terhadap perbedaan antara 'kotor' dan 'kurang bersih', juga
antara 'jelek' dan 'kurang bagus' atau antara 'basah' dan 'kurang kering'.
     Bahasa yang halus akan lebih mudah diterima karena bernada menghargai. Sebaliknya bahasa
yang kaku sering dirasakan bernada menghina dan menyepelekan. Telingapun lebih senang
mendengar bahasa yang halus.
     Sindiran diperlukan untuk menyejukkan perasaan agar tidak panas. Karena kata-kata yang
tajam hanya akan memanaskan hati sehingga membuat orang tersinggung.

4. CIPTAKAN SUASANA MENYENANGKAN
     Cari waktu terbaik untuk menyampaikan kritik. Wanita bukanlah pria yang bisa menerima
teguran di depan umum, atau yang bisa menerima kritikan dengan cara dimarahi walaupun itu oleh
atasan. Perlu diingat bahwa perasaan pun turut dibentuk oleh suasana lingkungan.
     Suasana yang 'panas' membuat hati cepat tersinggung. Tetapi suasana yang 'dingin' dan akrab
membuat wanita lebih mudah untuk berlapang dada.

5. KESANKAN SEPERTI MEMBERI USULAN
     Intinya, pandai-pandailah berdiplomasi. Lontarkan kritik itu dengan diplomasi kata-kata,
sehingga terkesan hanya sebagai pertanyaan atau usulan. Terhadap orang tertentu perlu pula
memakai trik pura-pura bodoh, pura-pura tidak tahu, kemudian melontarkan pertanyaan yang
mengandung kritik.
     BERBAUR dalam dunia kerja wanita, tentu sering berjumpa dengan permasalahan